SEMARANG, beritajateng.tv – Proyek betonisasi Jalan Brigjen Sudiarto atau Jalan Majapahit yang rampung pada akhir 2025, menuai sorotan dari DPRD Kota Semarang.
Pekerjaan infrastruktur berskala besar itu dinilai belum sepenuhnya memperhatikan dampak terhadap fasilitas publik.
Setelah beberapa waktu lalu viral hidran Damkar tertutup cor beton, kini giliran halte bus Trans Semarang terdampak pengecoran jalan.
Anggota DPRD Kota Semarang, Ali Umar Dhani, menyampaikan keprihatinannya setelah menerima laporan dari warga dan pengguna transportasi umum.
Ia menyebut, sejumlah halte bus justru menjadi korban dari proyek yang seharusnya meningkatkan kenyamanan mobilitas masyarakat.
“Kami menerima banyak laporan dari masyarakat. Ada beberapa halte bus yang terendam akibat pengecoran beton, di antaranya halte di depan SPBU Penggaron, MAN 1 Semarang, Manunggal Jati, serta halte di sekitar Jalan Zebra, baik sisi selatan maupun utara,” ujar Ali, Senin, 12 Januari 2026.
BACA JUGA: Dewan Soroti Dana Operasional RT Sisa Rp5,46 Miliar, Minta Administrasi Disederhanakan
Menurut Ali, betonisasi jalan memang penting untuk meningkatkan kualitas infrastruktur kota. Namun, pelaksanaannya harus direncanakan secara matang agar tidak mengorbankan fasilitas publik yang digunakan setiap hari oleh warga.
“Betonisasi ini bertujuan baik, tetapi jangan sampai justru menyulitkan masyarakat. Halte adalah titik vital bagi pengguna angkutan umum. Ketika halte tergenang beton, otomatis akses naik turun penumpang menjadi tidak nyaman dan berisiko,” katanya.
Politikus dari Fraksi PKS itu juga menyoroti lemahnya koordinasi antara pemerintah kota dan pihak pelaksana proyek.
Ia menilai, perencanaan teknis seharusnya sudah memperhitungkan keberadaan halte bus sebelum proses pengecoran berjalan.
“Dari kondisi di lapangan, terlihat ada fasilitas publik yang luput dari perhatian. Ini menandakan koordinasi antar pihak masih perlu perbaikan, agar proyek besar tidak menimbulkan persoalan baru,” tegas Ali.





