Jateng

Bicara Strategi Konektivitas Hingga Tahun 2045, Bappeda: Kini Jateng Seperti Negara Maju 15 Tahun Silam

×

Bicara Strategi Konektivitas Hingga Tahun 2045, Bappeda: Kini Jateng Seperti Negara Maju 15 Tahun Silam

Sebarkan artikel ini
Konektivitas jateng
Staf Ahli Madya Bappeda Jateng Sigit Pandu Basuki usai menghadiri FGD di Kantor Bappeda Jateng, Selasa 11 Juli 2023. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Bappeda Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk kali pertama terkait strategi konektivitas Jateng jangka panjang.

Mengambil tema ‘Strategi Konektivitas Jawa Tengah yang Berkualitas dan Berkelanjutan hingga tahun 2045’, Staf Ahli Madya Bappeda Jateng Sigit Pandu Basuki menyebut FGD ini merupakan tahapan awal guna menjaring masukan berbagai kalangan yang hadir.

“Jadi ini tahapan awal untuk menjaring masukan dulu. Kita belum bisa merencanakan atau belum membuat konsep, tapi baru menjaring masukan aspirasi masyarakat,” ucap Sigit usai menghadiri FGD di Kantor Bappeda Jateng, Selasa 11 Juli 2023.

Adapun masukan tersebut berasal dari perwakilan difabel, forum anak, pecinta transportasi, OPD Kabupaten/Kota, kedinasan perhubunggan, kedinasan PU, dan beberapa perwakilan instansi pusat.

BACA JUGA: Dapatkan Diskon Tiket Kereta Api di Booth KAI Jateng Fair 2023

Proyeksi Konektivitas Jateng 2045 Seperti Negara Maju

Sigit menilai, proyeksi Jateng saat ini layaknya kondisi negara maju 15 tahun silam. Ia meyakini, pada tahun 2045 nanti Provinsi Jateng akan sama sebagaimana yang sekarang terjadi di negara maju.

“Kita mengacu pada daerah lain, negara lain yang sudah lebih maju, karena kan ada image dari masyarakat kalau Jateng tahun ini itu kaya negara maju 15 tahun kemarin. Bayangan kita 25 tahun lagi, kita seperti negara maju saat ini,” ucap Sigit.

“Seperti ada transportasi umum yang bisa mengatasi permasalahan yang ada, kan jumlah penduduknya meningkat.
Ketika itu bisa disolusikan dengan angkutan umum yang merata, menjangkau, dan berkualitas, itu bisa jadi solusi,” imbuhnya.

Baginya, yang terpenting dari kemajuan konektivitas di Jateng yakni minat masyarakat menggunakan mode transportasi umum.

“Ada angkutan umum tapi ga ada yang pakai kan percuma. Kan penyediaan angkutan umun itu butuh anggaran yang besar, biaya yang penumpang bayarkan kan murah ya, 4.000 misalnya untuk Trans Jateng, itu kan tidak bisa menutupi,” pungkasnya.

BACA JUGA: Benarkah Naik Kereta Tak Perlu Pakai Masker Lagi? Ini Penjelasan Aturan Penumpang KAI Terbaru 2023

Kemungkinan penambahan frekuensi KA Banyubiru Semarang-Solo

Kereta Api (KA) turut menjadi moda transportasi yang pastinya dapat menyokong konektivitas antarwilayah di Jateng. Baru-baru ini, masyarakat Semarang dan Solo sekitarnya menyambut baik adanya KA Banyubiru dengan rute Stasiun Semarang Tawang menuju Stasiun Solo Balapan.

Tingkat okupansi yang semakin tinggi, yakni hampir capai 100 persen, membuat PT KAI menambah jadwal perjalanan KA Banyubiru relasi Semarang-Solo. Belum lama ini, Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka sempat memberi usulan untuk menambah frekuensi KA Banyubiru layaknya KA Prameks Solo-Jogja.

Terkait penambahan frekuensi tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Jateng Heri Bs Widodo mengungkap kemungkinan besar hal itu akan terjadi. Sebab, relasi KA Semarang-Solo tak hanya pekerja saja yang memanfaatkan.

“Memungkinkan. Sangat mungkin. Ini kan jadi akhirnya seperti layanan-layanan perintis ya, ini dicoba. Saya sudah bilang dulu dengan temen-temen Kereta Api, waktunya (KA Banyubiru) mbok yang pas. Paling tidak sampai Semarang atau sampai Solo pas waktu orang bekerja. Tapi ini ternyata kita tidak hanya orang bekerja,” ungkap Heri usai menghadiri FGD.

“Orang bisnis dan wisata juga ada. Karena menjadi bagus ya. Tidak menutup kemungkinan ya, demand sudah bagus seperti itu ya sangat mungkin,” imbuhnya. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp