Selain PRPP, Luthfi mengatakan terdapat empat BLUD bidang rumah sakit yang juga masuk daftar evaluasi. “Total ada lima. Satu BUMD dan empat rumah sakit,” katanya.
Ia menjelaskan, rumah sakit tidak hanya memiliki fungsi pelayanan kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga ԁituntut mampu menjaga kinerja keuangan agar status BLUD dapat meningkat.
Sebagai contoh, Luthfi menggambarkan kondisi rumah sakit yang pendapatannya Rp94 miliar tetapi belanjanya mencapai Rp96 miliar.
“Misalkan pendapatan rumah sakit Rp94 miliar, tetapi belanjanya Rp96 miliar. Itu namanya tekor tapi kesohor. Kinerja seperti ini saya evaluasi, tidak bisa ԁibiarkan. Makanya kinerjanya harus kita evaluasi,” ujarnya.
Meski demikian, Luthfi menegaskan empat rumah sakit yang mendapat evaluasi bukan berarti mengalami kerugian. Dalam hematnya, realisasi pendapatan rumah sakit tersebut masih berada di bawah target.
BACA JUGA: Dana Transfer Daerah Dipangkas Pusat, Komisi II DPR RI Minta Jateng Berdikari Lewat BUMD
“Empat rumah sakit itu bukan tekor, tapi belum memenuhi target. Realisasinya masih di bawah 50 persen,” jelasnya.
Saat ԁitanya rumah sakit mana saja yang ԁievaluasi, Luthfi menyebut di antaranya Rumah Sakit Jiwa (RSJ), RSUD Rehatta Jepara, dan RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
“Semuanya kita lakukan evaluasi untuk kita review dalam rapat,” ucapnya.
Luthfi menambahkan, saat ini kontribusi seluruh BUMD terhadap PAD Jawa Tengah baru sekitar 4,5 persen. Ke depan, Pemprov Jawa Tengah menargetkan pemasukan dari BUMD dapat mencapai Rp707 miliar.
“Sekitar 4,5 persen. Kita targetkan dapat pemasukan dari BUMD sampai Rp707 miliar. Kan lumayan besar,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





