Tak hanya soal gaya, tren warna 2026 juga terprediksi mengarah pada palet yang terinspirasi dari alam. Meski tetap mengacu pada tren global Pantone Color Institute, pilihan warna penyesuaiannya dengan karakter street style yang lebih halus.
“Putih di 2026 itu bukan putih bersih, tapi putih keabu-abuan dengan sentuhan biru. Seperti warna langit, lebih lembut dan natural,” tambahnya.
Sudarna menilai, strive style juga akan memengaruhi pola produksi industri fashion, termasuk pelaku UMKM. Namun dampak tersebut sangat bergantung pada sejauh mana pelaku usaha mendapatkan edukasi dan informasi terkait tren.
“Tren itu sifatnya gambaran. Dampaknya akan terasa kalau UMKM teredukasi dan mendapat informasi yang cukup,” ujarnya.
Ke depan, strive style di pastikan identik dengan konsep fashion berkelanjutan. Penggunaan bahan ramah lingkungan, pewarna alami, serta pembatasan produksi massal menjadi bagian dari arah perkembangan tren tersebut.
“Fashion 2026 cenderung ke warna-warna alam, earth tone, dan produk yang lebih ramah lingkungan,” kata Sudarna.
BACA JUGA: Intip Keseruan Kids Fashion Show ‘Semarang Hebat’ di Hotel Horison Ultima
Meski demikian, ia menegaskan bahwa busana kasual tidak akan kehilangan tempat. Justru gaya ini akan tetap menjadi pilihan utama karena fleksibel untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja hingga bersantai.
“Baju kasual itu tidak akan mati, karena untuk pemakaian sehari-hari, untuk kerja, hangout, sampai di rumah,” tegasnya.
Di sisi lain, Sudarna mengingatkan pelaku UMKM fashion agar tidak sekadar mengejar tren. Identitas dan ciri khas tetap menjadi kunci agar produk mudah masyarakat kenali dan memiliki pasar yang jelas.
“UMKM harus punya karakter sendiri supaya produknya terkenal dan pasarnya tersegmentasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





