Jateng

Desak Komdigi Blokir Konten AI ‘Skandal SMANSE’, Diskominfo Jateng Buka Kanal Aduan untuk Korban

×

Desak Komdigi Blokir Konten AI ‘Skandal SMANSE’, Diskominfo Jateng Buka Kanal Aduan untuk Korban

Sebarkan artikel ini
Iklan Judol
Kepala Diskominfo Jawa Tengah, Agung Hariyadi, saat dijumpai di kantornya. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Langkah percepatan pemblokiran juga terus dilakukan, termasuk pembukaan kanal aduan masyarakat melalui berbagai platform.

“Dari kemarin saya kejar terus ke Pak Direktur. Kami tekankan untuk segera di lakukan pemblokiran dan langkah hukum,” ujarnya.

Agung menyebut korban bisa melapor melalui kanal digital Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN) yang tersedia di AppStore dan PlayStore, maupun melalui call center 150945.

Ia menegaskan, kanal ini terbuka bagi siapa pun yang ingin melapor, tak terkecuali bagi korban yang khawatir identitasnya terungkap. Agung pun memastikan identitas korban yang melapor terjaga.

“Kita terbuka untuk semua, tidak ada hambatan. Kami pastikan laporan tetap ditindaklanjuti,” tegasnya.

Tren AI dan minimnya literasi digital

Kasus deep fake ini, kata Agung, menjadi cerminan tantangan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Menurutnya, kemajuan teknologi harus terimbangi dengan literasi digital dan pemahaman etika.

“Teknologi AI itu banyak positifnya, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal negatif. Literasi pun kami terus upayakan,” ujarnya.

Diskominfo Jawa Tengah saat ini aktif menggandeng perguruan tinggi dan pelajar SMK untuk sosialisasi etika digital. Program literasi ini juga bekerja sama dengan Komdigi Jateng–DIY, termasuk kontes pemanfaatan AI untuk digital marketing yang diarahkan ke penggunaan positif.

“Kita juga punya tim dari Jateng Radio yang terjadwal mengunjungi SMK-SMK untuk memberikan literasi kepada siswa bagaimana memanfaatkan teknologi informasi dengan bijak,” lanjutnya.

Selain aspek teknis, edukasi etika digital juga menjadi perhatian. Agung menilai banyak pengguna internet memahami etika hanya dalam kehidupan nyata, padahal dunia maya juga memiliki aturan dan norma.

“Itu yang terus kita sampaikan. Materinya tidak sekadar teknis, tapi juga budaya dan etika. Kita sampaikan saat pelatihan keamanan siber dan pemanfaatan teknologi,” tegas Agung.

BACA JUGA: Update Skandal AI di SMAN 11 Semarang: Dekan Undip Tegaskan Tindakan Tegas untuk Chiko