Ia menilai proyek tersebut tidak hanya berpotensi menghadirkan investasi baru bagi Kota Semarang. Tetapi juga membuka lapangan pekerjaan sekaligus memperkuat keamanan kawasan dari ancaman longsor.
Pendapat serupa ahli struktur Dr. T. Ir. Herry Ludiro Wahyono, ST, MT sampaikan. Ia menjelaskan hasil kajian geoteknik selama dua tahun menunjukkan perlunya penguatan lereng melalui pembangunan dinding penahan tanah berlapis.
“Kami merekomendasikan pembangunan tujuh lapis dinding penahan menggunakan metode bored pile dengan kedalaman sekitar 35 hingga 40 meter dan diameter 1 hingga 1,2 meter,” ujarnya.
Herry mengungkapkan potensi pergerakan tanah di kawasan tersebut meningkat saat musim hujan. Air yang meresap ke dalam tanah dapat bertemu lapisan clay shale yang memiliki karakteristik mudah berubah ketika terkena air sehingga memicu pergeseran tanah.
Karena itu, lanjutnya, kawasan tersebut tidak untuk sistem resapan air tanah dalam jumlah besar dan memerlukan penguatan struktur sebelum pembangunan utama terlaksana.
Ia juga memastikan penggunaan alat berat di lokasi tidak menimbulkan getaran berbahaya bagi lereng. Seluruh pekerjaan saat ini difokuskan pada pemasangan bored pile yang berfungsi sebagai dinding penahan tanah atau soldier pile.
“Konstruksi ini menjadi sabuk pengaman lereng yang tidak hanya melindungi area proyek, tetapi juga memberikan perlindungan bagi permukiman warga dan infrastruktur publik di sekitar Gombel Lama,” terangnya.
Berdasarkan catatan historis dan pengalaman warga setempat, kawasan Gombel Lama memang terkenal memiliki karakteristik geologis yang rentan terhadap pergerakan tanah. Bahkan sejumlah bangunan warga kerap mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah secara alami. (*)





