SEMARANG, beritajateng.tv – Selama bulan Ramadan, umat muslim diharuskan tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Dengan waktu makan yang terbatas, tentu asupan gizi makanan harus maksimal.
Ketua DPC PPJI (Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia) Kota Semarang, Yanti M. Sakoer, menggarisbawahi keterpenuhan asupan gizi bagi santri selama bulan Ramadhan. Menurutnya, asupan gizi santri haruslah terpenuhi meski di tengah padatnya aktivitas pondok pesantren.
“Kita memberikan edukasi bahwa makanan sehat dan seimbang dengan gizi atas kebutuhan gizi yang standart itu berapa, supaya aktivitas mereka, tumbuh kembang mereka, tidak lemas saat puasa,” katanya saat beritajateng.tv temui dalam acara PPJI Berbagi Berkah Ramadhan di Pesantren Multazam, Kamis, 21 Maret 2024.
BACA JUGA: Berkah Ramadhan, PPJI Edukasi Makanan Sehat dengan Gizi Seimbang di Pesantren Multazam
Ia menjelaskan, santri dan santriwati khususnya di Pesantren Multazam adalah siswa SMP dan SMA. Mereka memiliki usia di kisaran 12 hingga 15 tahun.
Oleh karena itu, terdapat rata-rata konsumsi makanan yang harus terpenuhi sehingga tumbuh kembang dan proses belajar dapat maksimal. Yakni, sebanyak 2.050 kalori tiap harinya untuk perempuan, dan 2.400 kalori setiap harinya untuk laki-laki.
Di pesantren terangkan tantangan gizi menu kekinian instan yang tidak sehat
Ia menambahkan, generasi muda saat ini memiliki tantangannya tersendiri dalam memenuhi gizi seimbang. Salah satunya yakni banyaknya menu kekinian yang jauh dari kata sehat.
Padahal, asupan makanan sehat harusnya terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protenin nabati, snack dan buah-buahan bergizi agar memenuhi gizi seimbang.
“Kita tau bahwa di pondok pesantren itu memasak dalam skala besar, ada tantangan tersendiri untuk mendapatkan nilai gizi yang dibutuhkan tubuh, itu yang kita edukasi,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPD PPJI Jawa Tengah, Lilik Agus Gunarto, menambahkan, banyak pesantren yang masih memiliki dapur tradisional dan kurang memadai. Oleh karenanya, PPJI berkomitmen untuk mengedukasi pesantren-pesantren sehingga santri mendapat makanan bergizi yang memenuhi syarat kesehatan.
BACA JUGA: Ita Ajak PPJI Berinovasi Ciptakan Makanan dengan Kearifan Lokal
“[Dapur] pesantren di daerah banyak yang seadanya, ini yang membuat kelalaian selama memasak dan efeknya untuk santri-santri, makanya kita memberi edukasi supaya santri-santri mendapat makanan yang bergizi,” tutur Lilik.
Setelah Pesantren Multazam, PPJI akan mengunjungi 3 pesantren lainnya di Jawa Tengah. Selain mengedukasi menu bergizi, lanjut Lilik, PPJI juga mengajak pesantren agar mampu mengolah menu makanan yang bervariasi.
“Bahannya sama, tapi olahan menunya berbeda, lebih bervariatif. Supaya anak tidak bosen, ada edukasi supaya makanannya tidak itu-itu aja,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





