SEMARANG, beritajateng.tv – Forum Masyarakat Pemerhati Aset Kota Semarang menilai manajemen PDAM lalai dalam mengamankan objek vital usai adanya temuan mayat mengambang hampir tiga pekan di Reservoir Siranda.
Ketua Forum Pemerhati Aset Kota Semarang, Subiyanto, menegaskan bahwa kasus ini menunjukkan adanya kelalaian serius yang harus PDAM pertanggungjawabkan. Menurutnya, ada tiga hal mendasar yang wajib PDAM jelaskan.
“Pertama, bagaimana jenazah bisa masuk? Kedua, mengapa [mayat itu] bisa bertahan hampir tiga minggu tanpa diketahui? Ketiga, bagaimana fungsi anggaran keamanan dan perawatan yang seharusnya menjaga objek vital tersebut? Kalau anggaran sudah ada, kenapa masih kecolongan?” ujarnya di hadapan awak media pada Selasa, 19 Agustus 2025.
Subiyanto menambahkan, pihaknya mendesak Wali Kota Semarang bersama aparat penegak hukum membentuk tim investigasi untuk mengusut kelalaian ini.
BACA JUGA: Kasus Mayat di Reservoir Siranda, Forum Pemerhati Aset Semarang: Dampak Psikis ke Warga Lebih Berat
“Selama manajemen PDAM tidak memberi penjelasan terbuka, kami akan terus mendorong agar ada investigasi. Ini ekstremnya kelalaian. Tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.
Forum Pemerhati Aset Kota Semarang juga menyoroti soal akuntabilitas moral pimpinan PDAM. Subiyanto menilai, di negara maju, kasus serupa biasanya mendapat respons sikap tanggung jawab hingga pengunduran diri pimpinan.
“Kalau di luar negeri, pimpinan sudah malu secara moral. Kenapa hal seperti itu bisa lalai, itu tanggung jawab pemimpin. Etika dan moral itu penting,” katanya.
Forum Masyarakat Pemerhati Aset Kota Semarang sampaikan mosi tidak percaya ayas kelalaian PDAM
Lebih jauh, Forum Pemerhati Aset Kota Semarang menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kelalaian manajemen PDAM.
Subiyanto menyebut perlu langkah tegas agar pelayanan publik, terutama penyediaan air bersih, bisa kembali masyarakat percaya.
Sementara itu, pihak PDAM juga telah memberikan pernyataan terkait penemuan mayat di Reservoir Siranda. Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Semarang, Yudi Indardo, mengatakan bahwa korban menerobos lewat pagar samping.
“Sebenarnya pagar-pagarnya tergembok rapi sehingga pada saat polisi masuk juga pagarnya masih terkunci. Itu pun harus nunggu kunci gembok dari kami. Posisinya, korban ini menerobos lewat pagar samping,” katanya pada Selasa, 19 Agustus 2025.
BACA JUGA: Tak Ada CCTV dan Petugas Keamanan di Reservoir Siranda, PDAM: Korban Terobos Pagar Samping
Yudi menyebut, di dalam Reservoir Siranda sebenarnya terdapat rumah dinas untuk petugas jaga dan keamanan.
Namun, setelah Reservoir Siranda tak digunakan sebagai aliran air baku utama dan jadi cadangan atau backup apabila IPA TGM (Instalasi Pengolahan Air Tirta Gajah Mungkur) terkendali. Rumah dinas di Reservoir Siranda itu kini lantas tak ada yang menempati.
“Sebenarnya di sana ada rumah dinas dan tadinya ada yang nempatin, tapi sekarang memang tidak ada yang menempatinya. Karena sejak Maret tidak difungsikan, jadi ini memang pemeliharaan atau pengawasan sifatnya hanya berasal dari petugas pengatur aliran,” tuturnya.
Reservoir Siranda hanya disiapkan pada saat backup sistem air di Instalasi Pengelolaan Air Tirta Gajah Mungkur (IPA TGM) mati dan perlu pengondisian. Saat itulah petugas PDAM baru datang dan mengaktifkan pergantian aliran air. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













