BLORA, beritajateng.tv – Isu pembongkaran makam yang diduga pusara keturunan habib palsu di Dukuh Manggir, Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Blora, memicu kericuhan di kalangan warga setempat.
Pada Minggu, 20 April 2025 kemarin, sekelompok orang berpakaian serba hitam dan mengenakan blangkon mendatangi lokasi makam tersebut.
Orang-orang itu merupakan anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kabupaten Blora.
Setibanya di makam, salah satu anggota kelompok tersebut melakukan ritual dengan membaca mantra dan meminta rekan-rekannya untuk membongkar makam.
BACA JUGA: Deretan Fakta Pernikahan Habib Rizieq dan Istri Barunya 27 Tahun Lebih Muda
Tindakan ini langsung beroleh penolakan dari warga yang berkumpul, serta petugas gabungan dari TNI dan Polri, yang melarang pembongkaran itu.
Warga meyakini bahwa makam tersebut ialah makam keturunan Kerajaan Mataram.
Setelah terjadi ketegangan, akhirnya tercapai kesepakatan antara PWI-LS dan warga untuk membuktikan bahwa makam tersebut bukan makam keturunan habib.
“Kami sepakat untuk tidak melakukan pembongkaran dan akan membawa bukti bahwa makam ini bukan keturunan habib seperti yang warga sampaikan,” kata Pujianto, Bendahara PWI-LS.
Kata polisi Todanan Blora soal dugaan pembongkaran makam keturunan habib palsu
Kapolsek Todanan, IPTU Joko Sulistya, menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan salah paham.
Ia memastikan tidak akan ada pembongkaran makam dan meminta untuk menutup makam sementara waktu hingga konflik ini selesai.
“Ya, untuk sementara makam kami tutup. Sudah itu saja, tidak usah pernjang lagi. Ini hanya salah paham”, kata Kapolsek.
Sementara itu, Abdul Mukid, pengurus makam, menegaskan bahwa berdasarkan informasi dari para kyai, makam tersebut ialah makam Mbah Abdullah Zarqoni atau Ki Ageng Manggir, keturunan Kerajaan Mataram.
BACA JUGA: Imbau Soal Track Record, Habib Jafar Beri Pesan Jelang Pilgub Jateng: Jangan Pilih Paslon Ambisius
Ia juga menyatakan kekecewaannya atas tindakan sekelompok orang yang ingin membongkar makam, mengingat warga setempat telah membangun makam tersebut secara swadaya dan meyakini asal-usulnya.





