Widi menegaskan, hingga kini pihaknya belum bisa memastikan sumber kayu tersebut berasal dari kawasan hutan lindung.
BACA JUGA: Viral Gelondongan Kayu di Pemalang dan Tegal Usai Banjir Bandang, BPDB Jateng Belum Tahu Asalnya
“Tidak semuanya dari hutan lindung. Kami masih cek. Kami lihat apakah ada pinus atau tidak. Identifikasi sementara kemarin belum ditemukan kayu pinus,” ujarnya.
Ia menambahkan, gelondongan kayu yang terbawa hingga ke wilayah pesisir, khususnya di Kabupaten Tegal, juga tidak seluruhnya berupa kayu besar.
“Yang masuk ke pantai di Kabupaten Tegal itu juga bukan gelondongan besar semua. Lebih banyak kayu-kayu ranting,” jelas Widi.
Klaim Belum Ada Indikasi Pembalakan Liar, DLHK Masih Telusuri
Menanggapi terkait kemungkinan adanya pembalakan liar atau penebangan ilegal, Widi menyebut belum ada indikasi yang mengarah ke sana.
“Kami masih teliti. Hari ini tim dari Balai Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan masih ke lapangan,” katanya.
Menurutnya, penentuan asal kayu bakalan melalui identifikasi jenis kayu secara menyeluruh.
BACA JUGA: Dari Tegal hingga Magelang, Wisata Jateng Terimbas Banjir Bandang-Angin Ribut
“Nanti lihat jenis kayunya apa. Baru bisa menyimpulkan apakah dari hutan lindung, hutan rakyat, atau dari mana,” ujarnya.
Widi juga menanggapi isu yang mengaitkan gelondongan kayu dengan aktivitas pembangkit listrik panas bumi (geotermal). Ia menegaskan eksplorasi geotermal di kawasan tersebut telah lama dihentikan.
“Yang geotermal itu sudah berhenti eksplorasinya beberapa tahun lalu,” tegasnya.
Pemprov Jawa Tengah Dorong Gunung Slamet Jadi Taman Nasional
Sebagai langkah jangka panjang, DLHK Jawa Tengah mendorong penguatan perlindungan kawasan Gunung Slamet melalui perubahan status kawasan.
Ia mengungkapkan, usulan tersebut telah DLHK sampaikan kepada Kementerian Kehutanan sejak 2025.
“Kami mendorong upaya rehabilitasi hutan dan lahan, termasuk mengusulkan wilayah Gunung Slamet menjadi taman nasional. Sudah dikirimkan ke Kementerian Kehutanan. Tahun 2026 nanti akan turun tim terpadu, ada akademisi juga yang akan melakukan kajian dan pemetaan,” ujarnya.





