SEMARANG, beritajateng.tv – Belakangan ini marak terjadi kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh keluarga terdekat. Bahkan, tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah, baik ayah kandung maupun ayah tiri, terhadap anaknya.
Hal itu tersampaikan oleh Drs. Ulfi Imran Basuki, Kepala DP3A Kota Semarang saat beritajateng.tv temui usai kegiatan sosialisasi bertemakan “Peran Ayah dalam Pengasuhan & Pencegahan Kekerasan terhadap Anak” di Aula SMPN 39 Semarang, Senin 13 November 2023.
Adapun puluhan ayah dari siswa SMPN 39 Semarang mengikuti sosialisasi tersebut. Ulfi menjelaskan, tujuan sosialisasi tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran ayah terkait pentingnya peran mereka dalam pola asuh anak.
“Mayoritas pelaku kekerasan seksual pada anak adalah ayahnya. Oleh karena itu, kita ajak mereka supaya ikut melindungi perempuan dan anak, dalam hal ini minimal istri dan anaknya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perempuan dan Anak Jawa Tengah, Dra. Retno Sudewi mengungkapkan bahwa Kota Semarang merupakan kabupaten/kota dengan laporan kasus kekerasan paling banyak se-Jawa Tengah. Padahal, melalui momentum Hari Ayah yang jatuh pada tanggal 12 November kemarin, sosok pemimpin keluarga juga berperan besar dalam pola asuh kepada anak.
Meski begitu, Dewi menegaskan apabila angka yang tinggi bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi satu tanda baik lantaran menjadi indikasi banyaknya korban yang berani melapor.
“Bagaimana ayah perannya penting sekali dalam hal pola asuh anak, terutama dalam kekerasan. Bagaimana ayah bisa memberikan kenyamanan pada anak, bagaimana ayah terlibat dalam pengasuhan,” katanya.
SMPN 39 Semarang berkomitmen untuk selalu ramah anak
Di sisi lain, SMPN 39 Semarang sendiri telah mendapat predikat Sekolah Ramah Anak sejak 2019 silam. Kepala Sekolah SMPN 39 Semarang Agusalim mengatakan, predikat tersebut masih bertahan sejalan dengan komitmen pihaknya dalam menghadirkan sekolah yang ramah terhadap anak.
Adapun ia menyebut bahwa sekolah ramah anak kemudian diterapkan dalam semua aspek sekolah, mulai dari sistem pembelajaran hingga fasilitasnya.
BACA JUGA: Lewat Layanan SAPA 129, Wanita dan Anak yang Alami Kekerasan dapat Melapor 24 Jam
“Kami ada beberapa program yang mendukung sekolah ramah anak, salah satunya SIAMBU atau ‘Siswa Anti Bullying’. Dari situ ada laporan bullying yang masuk, sekarang kebanyakan sudah terselesaikan. Untuk zero bullying kami akui susah, tapi tetap ada penurunan kasus bully di SMPN 39 Semarang,” jelasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





