Kolektif di Malaysia mengaku menghadapi hambatan yang sangat mirip. Misalnya dukungan pemerintah yang minim, kesulitan mendapatkan ruang alternatif untuk berkegiatan, serta regenerasi anggota yang tidak berkelanjutan.
“Mereka curhat, bertanya, dan akhirnya semangat. Ternyata, ada yang berhasil melewati tantangan yang sama,” lanjutnya.
Umumnya, usia kolektif di Malaysia hanya bertahan antara dua hingga tiga tahun sebelum kemudian bubar atau berevolusi menjadi bentuk baru. Dalam beberapa kasus, anggota dari kolektif lama bergabung kembali dalam kolektif baru, tetapi dengan visi dan struktur yang berbeda.
Melihat keberlangsungan Hysteria, mereka merasa tidak sendirian. Kegigihan dan kemampuan penyesuaian diri dalam membangun kolektif menjadi pondasi utama agar tetap eksis.
Keterbatasan infrastruktur dan perbedaan budaya sosial
Ketika diskusi, muncul refleksi mendalam mengenai perbedaan kondisi sosial dan infrastruktur yang turut memengaruhi cara kolektif berkembang di masing-masing tempat.
Para kolektif di Malaysia menyebut mereka cenderung lebih banyak berjejaring dengan sesama kolektif, dan belum mampu menjangkau masyarakat sekitar secara aktif.
Salah satu alasan utama karena rutinitas kehidupan masyarakat Malaysia yang sangat terstruktur dan berorientasi pada pekerjaan formal. Budaya kerja kantoran dari pagi hingga sore hari membuat masyarakat lebih individualis dan tidak terlalu terlibat dalam kegiatan komunitas.
Di sisi lain, infrastruktur kota seperti Kuala Lumpur dan Ipoh didominasi oleh zona komersial dan hunian vertikal. Secara fisik menyulitkan interaksi spontan di ruang-ruang publik.
Berbeda dengan Hysteria yang lahir dan tumbuh di Semarang, kota yang secara geografis dan sosial memiliki karakter lebih padat pemukiman dan tidak terlalu eksklusif. Lingkungan ini membuat Hysteria lebih mudah menjangkau masyarakat sekitar, meskipun prosesnya tidak instan.
Selama bertahun-tahun, Hysteria aktif menggelar kegiatan di ruang terbuka, di gang-gang kampung, atau mengundang warga dalam lokakarya dan diskusi santai.
Diskusi yang berlangsung selama tur dokumenter menjadi ruang untuk saling menguatkan dan menemukan harapan bersama.





