SEMARANG, beritajateng.tv – Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang merespons perhatian publik terkait keberadaan hidran yang sempat terpendam akibat pengecoran jalan di salah satu ruas Kota Semarang.
Peristiwa yang terjadi di Jalan Majapahit, tepatnya di depan Polsek Pedurungan ini sempat menuai sorotan publik beberapa waktu lalu.
Kasus hidran yang terpendam cor ini mencuat setelah Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Ade Bhakti, mengunggah video kondisi lapangan melalui akun media sosialnya.
Dalam video tersebut, Ade memperlihatkan hidran yang tidak dapat berfungsi karena tertutup material proyek. Sekaligus menyoroti lemahnya koordinasi lintas instansi dalam pelaksanaan pekerjaan di ruang publik.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Teknik PDAM Tirta Moedal, Hariadi, ST menegaskan komitmen pihaknya untuk segera menindaklanjuti insiden hidran tercor tersebut.
Pihaknya segera mengambil langkah cepat dengan menginisiasi rapat koordinasi bersama Damkar serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Kami menindaklanjuti informasi di lapangan dengan mengagendakan rapat koordinasi bersama OPD terkait. Evaluasi ini penting agar ke depan penataan dan penguatan infrastruktur hidran bisa lebih terintegrasi, mudah di akses, dan berfungsi optimal,” kata Hariadi.
Menurutnya, keberadaan hidran bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan merupakan tanggung jawab bersama.
BACA JUGA: Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi
PDAM berperan dalam jaringan dan suplai air, Damkar bertanggung jawab dalam pengoperasian, sementara aset fisik hidran berada di bawah kewenangan dinas teknis lainnya.
“Karena itu, duduk bersama menjadi kunci agar tidak terjadi simpang siur kewenangan. Semua harus bergerak dalam satu sistem yang saling mendukung,” ujarnya.
Hariadi menegaskan, sejak awal hingga saat ini PDAM Tirta Moedal tetap berkomitmen penuh mendukung tugas pemadaman kebakaran di Kota Semarang.
Dukungan tersebut dilakukan melalui penyediaan suplai air menggunakan mobil tangki saat terjadi kebakaran, serta memberikan akses pengambilan air bagi armada Damkar di sejumlah terminal air milik PDAM.
“Jika terjadi kebakaran, kami siaga mengirim mobil tangki ke lokasi. Di luar kondisi darurat, Damkar juga diperkenankan mengambil air di terminal air PDAM, seperti di IPA Kudu, Reservoir Manyaran, dan IPA Kelud. Semua itu kami berikan tanpa biaya, menggunakan anggaran tanggung jawab sosial perusahaan,” jelasnya.
Sementara itu, Humas PDAM Semarang, Charisma Mayang Sari menuturkan bahwa PDAM menerima informasi pada akhir Desember 2025. Saat itu, pengecoran jalan merupakan proyek Dinas Bina Marga tingkat Provinsi Jawa Tengah.
“Begitu kami menerima informasi, tim langsung turun ke lapangan. Pada 31 Desember 2025, hidran tersebut kami reposisi dan pindahkan beberapa meter dari area terdampak pengecoran agar bisa segera kita fungsikan kembali,” katanya.
Ia menambahkan, langkah cepat tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan PDAM dalam merespons situasi di lapangan. Sekaligus memastikan fasilitas pendukung keselamatan publik tetap tersedia.
Ke depan, PDAM Tirta Moedal membuka peluang penguatan infrastruktur hidran, termasuk kemungkinan penambahan titik baru pada 2026. Namun, realisasi tersebut membutuhkan kesepakatan lintas sektor serta perencanaan anggaran yang matang.
“Kami tidak bisa memutuskan sendiri. Ini perlu dukungan bersama, baik dari sisi teknis maupun penganggaran. Rapat evaluasi nanti harapannya menjadi titik temu untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujar Mayang. (*)
Editor: Elly Amaliyah







