SEMARANG, beritajateng.tv – Meski masuk dalam lima besar negara penghasil kakao dunia, kualitas kakao Indonesia ԁinilai masih tertinggal ԁibandingkan negara-negara Afrika Barat. Kondisi ini berdampak pada harga jual yang belum optimal di pasar global, sekaligus memengaruhi kesejahteraan petani kakao dalam negeri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia bersama Prancis terus memperkuat program Indokakao. Program itu merupakan sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan kualitas dan daya saing kakao nasional melalui pendekatan agroforestri berkelanjutan.
Direktur CIRAD Asia Tenggara, Jean Marc Roda, menjelaskan bahwa program Indokakao ԁirancang untuk mendorong peningkatan kualitas kakao Indonesia. Yakni agar mampu bersaing di pasar internasional.
BACA JUGA: Duplik Kasus Kakao UGM: Kuasa Hukum Sebut Kewajiban Sudah Tuntas, Terdakwa Minta Divonis Bebas
“Dengan pengelolaan agroforestri yang cerdas dan berkelanjutan, kami ingin meningkatkan nilai jual kakao Indonesia. Sehingga akan berdampak langsung pada pendapatan petani,” ujarnya dalam acara INSTIPER–INDOKAKAO 2026: Smart Cocoa Agroforestry for Sustainable Livelihoods di Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu, 15 April 2026.
Sementara itu, peneliti sekaligus pakar genetika kakao CIRAD, Christian Cilas, menambahkan bahwa kakao Indonesia memiliki karakteristik yang sangat beragam, tergantung pada kondisi lahan di masing-masing daerah.
“Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, kami berupaya menemukan varietas kakao yang paling sesuai untuk tiap daerah,” jelasnya.
Program Indokakao Optimalkan Produksi Kakao Indonesia
Program Indokakao, lanjutnya, juga mengacu pada pengalaman penelitian kakao di lebih dari 60 negara, guna mengoptimalkan produksi melalui praktik agroforestri yang tepat.
Di sisi lain, Direktur Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER, Agus Setyarso, mengungkapkan bahwa permintaan global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan terus meningkat. Namun, Indonesia masih menghadapi berbagai kendala.
Produktivitas kakao nasional saat ini masih berkisar 0,5 hingga 0,8 ton per hektare, jauh di bawah potensi optimal yang bisa mencapai lebih dari 1,5 ton per hektare.
“Terjadi kesenjangan antara permintaan dan produksi. Pasar tumbuh, tetapi kualitas dan kuantitas kakao kita belum mampu mengimbangi,” tegasnya.





