SEMARANG, beritajateng.tv – Perbaikan Jalan Brigjen Sudiarto atau Jalan Majapahit, Kota Semarang, terus ԁikebut. Hingga 9 Agustus 2026, progres preservasi ruas jalan tersebut telah mencapai 21,732 persen, dengan pengecoran beton sudah berjalan sekitar 200 meter.
Di balik perbaikan tersebut, Ꭰinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah mengungkap salah satu penyebab ruas Jalan Majapahit berulang kali mengalami kerusakan. Jalan tersebut banyak ԁilintasi kendaraan berat, termasuk truk dengan sumbu tiga atau lebih yang datang dari arah tol.
Kepala Ꭰinas PUPR Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mengatakan beban kendaraan berat yang melintas telah melebihi beban rencana konstruksi jalan.
“Posisi terakhir per tanggal 9 Agustus kemarin, progresnya sudah mencapai 21,732 persen. Di balik itu, pekerjaan yang sudah terlaksana antara lain pengukuran, rekayasa lalu lintas, dan galian aspal existing,” ujar Henggar saat beritajateng.tv hubungi melalui WhatsApp, Selasa, 11 Agustus 2026 sore..
Ia menambahkan, pekerjaan pengecoran beton saat ini sudah mencapai sekitar 200 meter. “Untuk pengecorannya, posisinya sudah mencapai kurang lebih sekitar 200-an meter,” katanya.
Henggar menjelaskan, kerusakan Jalan Majapahit tidak terlepas dari tingginya beban kendaraan yang melintas setiap hari. Menurutnya, salah satu persoalan terjadi karena banyak kendaraan berat dari arah tol yang berbelok menuju timur dan melintasi ruas Jalan Majapahit.
“Konstruksi kerusakan jalan ini tidak pernah lepas dari beban lalu lintas yang lewat. Sebagai contoh, di Jalan Majapahit ini banyak kendaraan berat dari tol yang belok ke kiri arah timur,” jelas Henggar.
Ia menyebut kendaraan dengan sumbu tiga atau lebih menjadi salah satu penyebab beban jalan melebihi kapasitas yang telah ԁiperhitungkan dalam konstruksi sebelumnya.
BACA JUGA: Betonisasi Jalan Majapahit Dikritik, Setelah Hidran Kini Halte Trans Semarang juga Terendam Beton
“Di sana sudah banyak kendaraan dengan sumbu tiga (truk berat) yang melintas. Inilah yang menjadi penyebab utamanya. Tingginya beban lalu lintas dengan sumbu berlebih itu mengakibatkan kerusakan ruas jalan,” tuturnya.





