SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus dugaan kekerasan seksual yang kembali mencuat di lingkungan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Tengah ԁinilai sebagai fenomena gunung es. Banyak kasus serupa ԁiduga selama ini tidak terungkap karena korban maupun masyarakat takut melapor.
Pandangan tersebut Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin, sampaikan saat menanggapi kasus dugaan pencabulan yang menyeret pengasuh Ma’had Adzimul Quran Al Anfas di Karangawen, Kabupaten Demak, belum lama ini.
Menurutnya, keberanian masyarakat dan korban untuk melapor justru menjadi perkembangan positif dalam upaya pengungkapan kasus kekerasan seksual.
“Saya justru ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat. Keberanian masyarakat untuk melapor ini sebenarnya adalah hasil yang kita harapkan dari program Kecamatan Berdaya, salah satunya melalui pendampingan paralegal,” ujar Gus Yasin saat beritajateng.tv jumpai di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menilai, kasus kekerasan seksual di ponpes yang selama ini terungkap kemungkinan hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
“Fenomena kekerasan seksual ini sebenarnya seperti fenomena gunung es. Masalah di bawahnya sangat banyak, tetapi selama ini tidak ada korban yang berani mengungkap,” katanya.
Ia mengungkap, berbagai pelatihan paralegal yang selama ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mulai menunjukkan hasil, lantaran korban kini lebih berani mencari bantuan dan melaporkan kasus yang ԁialami.
“Melalui pelatihan paralegal kemarin, pemerintah merangkul berbagai organisasi perempuan seperti Aisyiyah, Muslimat, dan Fatayat. Hasilnya, saat ini mulai muncul keberanian dari para korban maupun masyarakat untuk mengungkap kasus-kasus tersebut,” imbuh ԁia.
Gus Yasin Soroti Maraknya Padepokan Tak Berizin yang Mengaku Ponpes
Selain menyoroti keberanian korban untuk melapor, Gus Yasin juga menyinggung masih adanya lembaga yang mengatasnamakan pondok pesantren meski belum mengantongi izin operasional resmi.





