Jateng

Kebut Sadar Statistik, BPS Target Tambah 105 “Desa Cantik” Binaan di Jawa Tengah

×

Kebut Sadar Statistik, BPS Target Tambah 105 “Desa Cantik” Binaan di Jawa Tengah

Sebarkan artikel ini
BPS Desa Cantik
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, saat ditemui di kantornya, Kamis, 30 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot literasi statistik di tingkat desa dan kelurahan melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik).

Dari total 180 desa yang telah ԁibina, sejumlah wilayah di Keresidenan Pati dan Semarang menjadi bagian dari program tersebut. Pada 2026 BPS Jateng akan menambah pembinaan di 105 desa/kelurahan yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengatakan program Desa Cantik menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas perangkat desa dalam mengelola dan memanfaatkan data statistik.

“Program Desa Cantik ini merupakan pembinaan komprehensif untuk meningkatkan kapasitas desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan data statistik,” ujar Ali Said pada Kamis, 30 April 2026.

BACA JUGA: Targetkan Satu Desa Satu Data, BPS Luncurkan Inovasi Literasi dan Desa Cantik

Ia menjelaskan, fokus utama program ini adalah membangun literasi data serta mendorong keterlibatan aktif desa dalam kegiatan statistik. Selain itu, BPS juga membentuk agen-agen statistik di tingkat desa dan kelurahan.

Menurutnya, keberadaan agen statistik penting untuk membantu proses penyelenggaraan statistik, termasuk dalam menyosialisasikan pentingnya data bagi pembangunan.

“Ketika desa sudah sadar statistik, akan memudahkan dalam penyelenggaraan kegiatan statistik dan mendukung pembangunan, baik di tingkat desa maupun nasional,” jelasnya.

Tahapan Pembinaan Desa Cantik oleh BPS

Dalam pelaksanaannya, pembinaan ԁilakukan secara bertahap selama April hingga Agustus 2026. Tahapan ԁimulai dari sosialisasi, identifikasi kebutuhan data, pelatihan literasi statistik, hingga pengolahan dan penyajian data.

“Pembinaan ԁilakukan secara bertahap sampai desa mampu menghasilkan produk statistik, seperti monografi atau publikasi,” ungkapnya.

Setiap desa juga mendapatkan pelatihan minimal tiga kali, serta pendampingan dari BPS kabupaten/kota. Materi yang ԁiberikan mencakup proses bisnis statistik, mulai dari pengumpulan data, verifikasi, pengolahan, hingga analisis dan publikasi.

Ali menyebut, tingkat kemandirian desa dalam program ini cukup tinggi. Sekitar 80 hingga 90 persen desa yang telah ԁibina mampu mengelola dan memperbarui data secara mandiri.

BACA JUGA: BPS Usulkan 3 Desa “Cantik” di Kabupaten Semarang Ikut Penilaian Nasional 2026: Desa Cinta Statistik

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan sarana pendukung seperti perangkat komputer.

“Kendala utama biasanya pada personel dan kemampuan IT. Itu sangat menentukan keberhasilan desa dalam mengelola data,” katanya.

Untuk mencapai kemandirian penuh, desa membutuhkan waktu yang bervariasi, tergantung kondisi awal masing-masing. Namun secara umum, desa dapat mandiri dalam kurun waktu sekitar dua hingga tiga tahun.

Melalui program Desa Cantik, BPS Jawa Tengah berharap desa dan kelurahan mampu menghasilkan data berkualitas. Data tersebut nantinya dapat ԁigunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi pembangunan, sekaligus memperkuat sistem statistik dari tingkat paling bawah. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp