SEMARANG, beritajateng.tv – Tahun 2002 silam perjalanan Basuki menjadi tunanetra bermula. Ia yang baru kehilangan kemampuan melihat tak langsung menyerah dalam menjalani hidup. Bahkan, menjadi tunanetra malah menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi Basuki untuk terus berkembang. Melalui komunitas Sahabat Mata, ia ingin memberi sumbangsih bagi para tunanetra.
Basuki yang awalnya banyak berteman dengan Teman Awas, sebutan bagi non tunanetra, sejak 2002 mau tidak mau harus bertemu dengan teman-teman tunanetra. Dalam rentang tahun 2002 hingga 2005, Basuki kemudian menjadi aktif bertemu berbagai komunitas tunanetra di sekitar Semarang dan Jawa Tengah. Dalam perjalanannya, Basuki kemudian mendapatkan amanah untuk menjadi bagian dari DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Tengah.
BACA JUGA: Film “Tegar” Tebarkan Kasih Sayang dan Motivasi Mengejar Mimpi Penyandang Disabilitas
Menjabat sebagai Sekretaris DPD, Basuki terlibat dalam berbagai kegiatan Pertuni. Tak jarang ia melakukan kunjungan ke daerah-daerah lain untuk bertemu teman-teman tunanetra. Namun, kondisi penyandang tunanetra di lapangan acapkali membuatnya sedih.
“Melihat kondisi mereka, baik dari status sosial, status ekonomi, hingga pendidikan, rata-rata bukan hanya menengah ke bawah, namun mayoritas bahkan dibawah itu,” ungkap Basuki kepada beritajateng,tv, Senin 29 Mei 2023.
Ingin Berdayakan Rekan Tunanetra
Kondisi tersebut kemudian Basuki sampaikan kepada rekan-rekannya pada sebuah lembaga pengembangan sumberdaya insani. Menjadi tunanetra satu-satunya selama ini, Basuki ingin memberdayakan rekan tunanetra lainnya.
“Saya sampaikan kondisi teman-teman tunanetra, akhirnya kita buat kesepakatan untuk memberdayakan teman-teman. Bagaimana dengan kondisi seperti itu mereka tetap bisa berdaya, mandiri, membantu orang lain, bukan hanya sekadar minta bantuan,” lanjutnya.
BACA JUGA: Hari Peduli Sampah Nasional Tanda Dimulainya Kampung Alfamart Sahabat Bumi
Akhirnya, pada 1 Mei 2008, Komunitas Sahabat Mata resmi terbentuk dan mulai aktif berkegiatan. Kegiatan pertamanya pun cukup unik. Bukan sebuah kegiatan mudah, namun Basuki bersama teman-teman Sahabat Mata langsung mengadakan pentas teater di Auditorium RRI Semarang.
Meski tak mudah, namun pementasan teater perdana tersebut mampu mendulang sukses. Penjualan tiket habis terjual.
“Kegiatan pertama kali Komunitas Sahabat Mata itu menyelenggarakan pentas teater. Dari penulis naskah, sutradara, pemain, semua tunanetra, Alhamdulillah dapat terselenggara dengan baik,” jelasnya.
Sahabat Mata Awalnya Mendapat Respon Negatif
Sukses berdiri hingga 15 tahun, nyatanya perjuangan Sahabat Mata tak selalu mulus. Basuki menceritakan, tak jarang niatnya membangun Sahabat Mata mendapat respon negatif dari teman-teman tunanetra.
“Responnya ada yang baik, ada yang negatif, karena memang selama ini banyak sekali mereka di PHP, hanya sekadar jadi objek. Makanya ketika ada Sahabat Mata awalnya hanya sedikit yang mau bergabung, lainnya banyak yang curiga,” ungkapnya.
Namun, Basuki tak pernah mengambil hati. Respon negatif malah menjadi penyemangat bagi Basuki untuk terus membuktikan dengan setiap kegiatan.
“Yang penting itu kita buktikan saja dengan setiap kegiatan bahwa kita, Sahabat Mata, memang betul-betul pure untuk membantu teman-teman tunanetra,” lanjutnya.
Sahabat Mata pun menggelar berbagai kegiatan positif. Mulai dari siaran radio, produksi video youtube, pembelajaran Al Quran Braille, pelatihan komputer, hingga pelatihan kewirausahaan. Bahkan, pendampingan pendidikan, baik secara materiil maupun non materiil juga ada bagi teman-teman tunanetra.
“Kita hampir ke semua sektor, karena kita memang ingin membuka ruang baru, tidak sekadar kepada tunanetra, tapi untuk semua penyandang disabilitas. Jangan sampai kemudian karena difabel kemudian dianggap tidak bisa apa-apa,” pungkasnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





