Pasalnya ia menilai kondisi lingkungan di Lempongsari dan Kota Semarang tidak ramah lagi. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya sejumlah bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor.
“Lewat pameran yang akan saya gelar, saya ingin mengingatkan ke semua pihak bahwa alam harus dihormati dan dijaga, jangan ngawur melakukan pembangunan sehingga merusak alam,” ucapnya.
Ia menjelaskan sebelum Lempongsari ada, wilayah tersebut adalah perbukitan yang diisi rerimbunan pepohonan. Berbeda dengan sekarang yang dipenuhi bangunan hingga tak menyisakan pohon untuk hidup.
Ia percaya suatu saat Lempongsari akan kembali ke kondisi awal yaitu perbukitan tanah liat. “Saya percaya akan terjadi suatu peristiwa kembali ke alam. Kalau dulu laut kembali ke laut, kalau dulu bukit jadi bukit. Hal itu juga akan terjadi di Lempongsari,” tambahnya.
Pemeran yang akan digelar oleh Andreas bakal diajukan ke MURI, lantaran belum pernah ada perupa yang memamerkan puluhan lukisan dengan cerita bersambung mengenai terbentuknya wilayah Lempongsari. (Ak/EL)





