Jateng

Kisah Pria Sayung Demak Ikut Job Fair: Dipecat Tanpa Pesangon, Tak Ada Panggilan Gegara Umur

×

Kisah Pria Sayung Demak Ikut Job Fair: Dipecat Tanpa Pesangon, Tak Ada Panggilan Gegara Umur

Sebarkan artikel ini
Job Fair Jateng
Peserta Job Fair, Tri Wahyu Hidayat (36), saat dijumpai di Kantor Disnakertrans Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 21 Agustus 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ribuan warga dari penjuru Jateng berjuang mencari peruntungan dan pekerjaan baru melalui Job Fair atau bursa kerja yang berlangsung di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 21 Agustus 2025.

Tri Wahyu Hidayat (36) salah satunya. Pria asal Sayung, Demak, itu harus mencari penghidupan baru setelah dirinya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) tiga bulan lalu. Alasan dirinya terkena PHK tak lain ialah usaha furnitur tempat ia bekerja mengalami penurunan order.

“Perusahaan meng-off-kan saya akhir Mei lalu; selama tiga bulan ini saya sudah sering cari pekerjaan. Di kelompok saya ada lebih dari 10 orang yang di-PHK. Saya sudah bekerja sejak 2019,” ujar Tri saat beritajateng.tv jumpai di sela-sela Job Fair.

Sebelum mengikuti Job Fair ini, Tri mengaku sudah mengirim banyak lamaran secara daring. Namun, tak satu pun panggilan interview ia terima. Dalam kesempatan itu, Tri menyasar posisi sebagai operator produksi.

Tri pun mengaku sangat sulit mencari pekerjaan saat ini. Pria lulusan MA itu membandingkan dengan kondisi saat ia mencari pekerjaan pada 2019 lalu.

“Lebih sulit saat ini. Kalau mau lamar dulu itu ya, misalkan di lima perusahaan, kita paling lama nunggu sampai dua minggu. Selama dua minggu itu, di tiga atau empat hari pasti ada panggilan,” jelas dia.

Selama menunggu pekerjaan baru, Tri menghidupi keluarganya dengan mengandalkan jualan sang istri. Kendati begitu, Tri mengaku tak bisa terus-terusan menghidupi istri dan anaknya jika hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan. Hal itulah yang memaksanya mesti mencari pekerjaan baru.

“Alhamdulillah di rumah kan masih ada istri yang jualan. Kalau lama-kelamaan ya mungkin gak bisa,” sambung dia.

Terlebih, Tri mengaku tak mendapatkan pesangon dari kantornya meskipun ia terkena PHK. Hal lainnya yang Tri keluhkan ialah faktor usia yang menurutnya menjadi penghambat untuknya mendapat pekerjaan baru.

Padahal, orang yang sudah memasuki kepala tiga berhak untuk mendapatkan pekerjaan, tanpa adanya diskriminasi usia.

“Padahal usia 35 ke atas butuh kerja juga. Kalau mencari yang berpengalaman menurut saya kan pengalaman itu butuh proses, yang sudah berpengalaman itu dia pernah kok belum berpengalaman. Kalau tidak tertera batasan usia itu sudah pasti saya masuk, tapi kan ya seperti ini hasilnya,” pungkasnya.

Alumni Teknik Industri keluhkan sulitnya cari pekerjaan, perdalam skill bahasa Mandarin agar perusahaan melirik

Selain terkena PHK, peserta Job Fair juga datang dari mereka yang baru lulus kuliah atau fresh graduate. Alumni Teknik Industri Udinus, Annisa (24), mengungkap telah lulus sejak 2023 namun tak kunjung mendapat pekerjaan.

Selama berkuliah, Annisa mengaku aktif mengikuti kegiatan magang. Selama mencari pekerjaan, Annisa juga aktif mempelajari skill baru, utamanya bahasa.

“Saya lulus 2023, jadi sudah dua tahun ya. Selain cari kerja, saya perbanyak skill; bahasa Inggris, terus sekarang kan banyak PMA, jadi ambil Mandarin juga,” ungkap Annisa.

Annisa pun menyadari relasi sangatlah penting dalam mencari pekerjaan. Sebab, tak semua lowongan pekerjaan sifatnya terbuka.

BACA JUGA: Dinas Tenaga Kerja Jateng Gelar Job Fair 21-22 Agustus 2025, 6 Ribu Loker Menanti, Ini Daftar Perusahaannya!

“Memang cukup sulit ya sekarang cari kerja; saya gak cuma magang atau organisasi sekali saja. Memang sulit, tapi ya rezeki-rezekian juga. Harus memperbanyak relasi juga karena ada loker yang tidak ter-publish,” akunya.

Ia membenarkan lowongan kerja memang banyak tersebar, hanya saja syaratnya begitu menyulitkan. Tak hanya itu, Annisa pun turut menyadari banyaknya saingan dalam memperebutkan pekerjaan di Jawa Tengah.

“Lowongan kerja mungkin banyak, tapi yang daftar juga lebih banyak lagi. Banyak sekali persaingannya, banyak pencari kerjanya,” pungkas Annisa.

Tak kunjung dapat pekerjaan, S-2 jadi solusi

Rekan Annisa yang juga lulusan Teknik Industri Udinus, Maya (24), memilih jalan yang lain. Saat ini, Maya tengah menempuh pendidikan S-2 Teknik Industri di Undip.

Setelah lulus pendidikan S-1, Maya mengaku sempat bekerja di salah satu perusahaan nasional terkemuka yang memiliki kantor cabang di Semarang.

Hanya saja, pekerjaan itu mengharuskanya pulang dini hari. Hal itulah yang membuatnya mencari pekerjaan baru sembari melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Shift kerjanya itu berangkat tengah malam dan pulangnya subuh, itu memberatkan saya sebagai wanita pastinya. Ya sudah sambil cari lagi pekerjaan baru, sambil daftar S-2, ternyata S-2 keterima dan keluarga lebih setuju kalau misalkan saya lanjut S-2,” ujar Maya.

BACA JUGA: Undip Citra Job Fair Penuh Pencari Kerja, Bantu Gen Z Cari Pekerjaan Serta Latih Interview hingga Psikotes

Namun, kekhawatiran masih Maya rasakan. Ia takut pendidikan S-2 yang tengah ia jalani malah mengantarkannya sebagai lulusan overqualified bagi lapangan pekerjaan di Indonesia.

“Saya sadar kalau belum ada pengalaman terus lanjut S-2 pasti bakal lebih susah lagi cari kerjanya, karena kan overqualified juga sedangkan skill-nya itu masih belum ada gitu,” akunya.

Adapun pekerjaan yang ia sasar nanti jika sudah lulus kuliah adalah menjadi PNS atau bekerja di BUMN.

“Tapi ya paling kalau misalnya lulus carinya PNS atau BUMN, karena memang sudah kalah dari segi pengalaman kalau carinya di pabrik atau perusahaan,” pungkas Maya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadaf

Simak berbagai berita dan artikel pilihan lainnya lewat WhatsApp Channel beritajateng.tv dengan klik tombol berikut:
Gabung ke Saluran