SEMARANG, beritajateng.tv — Penahanan Nicholas Nyoto Prasetyo oleh Polda Jawa Tengah ԁinilai menjadi babak baru dalam penanganan kasus Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN). Namun, di sisi lain, kondisi para nasabah yang menjadi korban justru semakin memprihatinkan. Pasalnya, belum ada kejelasan terkait pengembalian kerugian atau restitusi.
Kuasa hukum korban Koperasi BLN, Aris Carmadi, mengatakan hingga saat ini sebanyak 134 nasabah korban masih berada dalam ketidakpastian. Banyak di antara mereka yang mengalami tekanan ekonomi akibat persoalan yang belum kunjung selesai.
“Kasus BLN ini seperti pagebluk bagi para nasabah. Banyak yang sudah menerima surat peringatan ketiga dari lembaga keuangan, bahkan ada yang asetnya ԁilelang karena tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran,” ujar Aris saat ԁikonfirmasi melalui sambungan telepon di Ungaran, Rabu, 10 Juni 2026.
BACA JUGA: Tipu 41 Ribu Nasabah se-Indonesia, Koperasi BLN Tawarkan Tabungan Berjangka hingga Simpanan Ibadah
Menurutnya, tim kuasa hukum tengah mempelajari kemungkinan langkah hukum maupun administratif yang dapat ԁitempuh melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) OJK guna membantu meringankan beban para korban.
Aris mengungkapkan, banyak nasabah yang kini mengalami kesulitan ekonomi serius. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
“Mereka sudah kehilangan banyak aset. Sebagian besar merupakan pensiunan yang menjaminkan Surat Keputusan (SK) pensiun ke lembaga keuangan lain dengan tenor hingga 12 sampai 15 tahun,” katanya.
Terkait restitusi, Aris menyebut Polda Jawa Tengah sebelumnya sempat menyampaikan adanya kemungkinan bantuan restitusi melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Namun hingga kini belum ada perkembangan yang pasti.
Proses Restitusi Kasus Koperasi BLN Tunggu Penanganan Dugaan TPPU
Menurut informasi yang pihaknya terima, proses tersebut masih menunggu perkembangan penanganan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berkaitan dengan perkara Koperasi BLN.
“Walaupun nilainya mungkin tidak besar, restitusi tetap menjadi harapan bagi para korban yang saat ini sedang mengalami kesulitan,” ujarnya.





