Di lokasi itu, menjadi tempat tinggal bagi warga suku Jawa, Arab dan Tionghoa. Meski hidup berdampingan, tidak ada friksi di antara mereka.
“Tidak jauh dari sini, mungkin sekitar 500 meter atau satu kilometer. Kita bisa menikmati bagaimana masyarakat Arab, Cina dan suku Jawa kumpul bareng, bergandengan, di kumpulkan. Dan yang menarik, di situ ada pasarnya juga. Artinya apa, pertumbuhan ekonomi itu bisa di topang, bisa di push. Ketika masyarakatnya bisa bersatu, bisa ber gotong royong, bisa bersama-sama, nggak ada gontok-gontokan,” tutupnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





