Ari menilai, penamaan wilayah Jenawi sebagai WKP seolah memisahkannya dari kawasan Gunung Lawu. Padahal, kata dia, wilayah tersebut berada di lereng Gunung Lawu.
“Tetapi pada tahun 2024 kemarin kok muncul lagi WKP Gunung Lawu. Bukan di Gunung Lawu, tapi di Jenawi, yang dipikir [pemerintah] masyarakat itu terlalu bodoh. Jadi Jenawi itu katanya bukan wilayah Gunung Lawu. Padahal jelas-jelas Jenawi itu lerengnya Gunung Lawu,” katanya.
Tak Ingin Dampak Proyek Geothermal seperti Dieng
Lebih lanjut, Ari mengatakan, alasan penolakan terhadap rencana pengembangan geothermal di wilayah Jenawi.
Dia bilang, masyarakat di kawasan Gunung Lawu tidak ingin ada dampak buruk geothermal di Dieng terjadi di wilayah Gunung Lawu.
“Kalau di sana sudah terjadi ya, bagaimana mau berjuang untuk melawan. Melawan itu sudah agak berat. Tapi untuk Ungaran, untuk Telomoyo, dan lain sebagainya, kan itu [geothermal] belum terjadi,” katanya.
Sebagai contoh, Ari mengatakan, kondisi kawasan geothermal di Dieng, kerap mengeluarkan aroma menyengat bak telur busuk.
“Itu yang tidak pernah kita terima di Gunung Lawu saat ini, bau telur busuk. Jadi kalau ingat Dieng, ingat telur busuk,” katanya.
BACA JUGA: Kecewa Gagal Berdialog, Massa Jateng Guyub Ancam Demo Kantor Bupati Semarang
Selain persoalan bau menyengat yang muncul, Ari juga menyoroti keberadaan pipa dengan berbagai macam ukuran. Pipa-pipa tersebut tersebar di kawasan geothermal Dieng.
“Terus semrawutnya area Dieng, pipa itu di mana-mana. Ada pipa sing (yang) gedenya segini, ada sing (yang) segini, ada sing (yang) segini, ada sing (yang) segini, itu berada di seluruh wilayah,” ucap Ari sambil menggambarkan besarnya pipa tersebut.
Dia mengatakan, keberadaan pipa-pipa itu untuk proyek geothermal itu berada di tempat-tempat wisata. Hal itu baginya bukan sesuatu yang layak dengan kesemperawutan yang muncul di kawasan wisata.





