Lebih jauh, Ari turut mempertanyakan konsep energi panas bumi atau geothermal sebagai energi terbarukan. Proyek geothermal di Dieng, kata Ari, menunjukkan bahwa sumber panas bumi tidak serta-merta tersedia tanpa batas.
“Jadi benar tadi kalau energi terbarukan kami pertanyakan. Di mana terbarukannya? Faktanya tidak seperti itu,” katanya.
Menurut pengamatannya, sumber panas di kawasan geothermal tidak hanya berada di satu titik. Proyek geothermal bisa mengeksplorasi pada titik-titik lainnya.
BACA JUGA: Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo
Selain sumber panas, Ari juga mengkhawatirkan keberadaan sumber air yang menyuplai dalam aktivitas geothermal. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian sebab masyarakat bergantung pada sumber air di wilayah sekitar.
“Terus yang ketiga, ada sumber-sumber air itu ada penampungannya. Masuk ke situ untuk sebagai bahan itu [geothermal]. Lama-kelamaan sumber air untuk masyarakat kan hilang secara pelan-pelan. Itu yang perlu menjadi poinnya,” katanya.
Ajak Masyarakat Buat Gerakan Bersama Tolak Geothermal
Lebih lanjut, Ari mengajak kelompok masyarakat yang menolak geothermal di berbagai daerah Jawa Tengah untuk memperkuat gerakan secara bersama-sama.
Ari menilai, selama ini penolakan terhadap geothermal masih banyak terjadi secara lokal sehingga lebih mudah mendapat tekanan.
“Ayo bersama-sama, karena selama ini yang terjadi hanya perlawanan-perlawanan lokal. Karena perlawanan lokal itu terlalu mudah untuk diserang,” katanya.
Ari juga menyinggung anggapan sebagian masyarakat setempat, utamanya tokoh masyarakat setempat. Di mana mereka kerap memilih mengikuti kebijakan pemerintah.
“Mayoritas, orang-orang tua itu sudah mlempem. ‘Wis toh, leh, mbok wis manut negara, mbok wis manut pemerintah.’ Itulah kata orang-orang tua kita,” kata Ari. (*)
Editor: Diaz A Abidin





