SEMARANG, beritajateng.tv – Masjid Agung Baitunnur Blora resmi ditetapkan sebagai masjid bersejarah oleh Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.
Penetapan ini ditandai dengan penyerahan prasasti kepada jajaran takmir masjid.
Ketua LTM PWNU Jawa Tengah, H. Nur Akhlis, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus Masjid Agung Baitunnur Blora.
Ia berharap masjid tersebut akan terus berkembang serta menjadi pusat kemakmuran jamaah.
“Plangisasi ini bagian dari upaya melestarikan warisan budaya dan keteladanan para Kyai terdahulu,” ujar Nur dalam keterangan tertulis, Minggu, 27 April 2025.
BACA JUGA: Wisata Unik Semarang, Jangan Lewatkan 5 Masjid Menarik Ini, Ada yang Bentuknya Kapal Lho!
Nur menambahkan, kegiatan ini tidak hanya sekadar simbolik melainkan juga menjadi ruh pengembangan nilai keagamaan di Blora.
“Ini bukan hanya simbolik semata tetapi harapannya ini nanti mampu menjadi ruh untuk mengembangkan nilai-nilai keagamaan khususnya di Kabupaten Blora,” imbuhnya.
Penetapan Masjid Agung Baitunnur ini mengikuti aturan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yakni harus berusia lebih dari 50 tahun. Usia masjid ini bahkan sudah melewati satu abad.
Nur menjelaskan bahwa Masjid Baitunnur Blora menjadi masjid kelima yang telah dilakukan plangisasi oleh LTM PWNU Jawa Tengah.
Sebelumnya, plangisasi berlangsung di Masjid Agung Rembang, Masjid Agung Pati, Masjid Jami’ Ismail Demak, dan Masjid Tiban Grobogan.
Kata Takmir Masjid Agung Baitunnur Blora atas label masjid besejarah
Ketua Takmir Masjid Agung Baitunnur, Khoirur Rozikin, turut menyampaikan rasa syukur atas penetapan tersebut.
“Label masjid bersejarah menjadi motivasi untuk terus memakmurkan tempat ibadah ini,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi langkah LTM PWNU Jawa Tengah. Ia menilai, pemasangan prasasti ini menjadi penghormatan kepada para ulama yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Blora.
BACA JUGA: Ramainya Masjid Agung Kauman Semarang di 10 Hari Terakhir Ramadan: Iktikaf hingga Sholat Tasbih
Arief berharap Masjid Agung Baitunnur Blora bisa menjadi pusat dakwah, sumber inspirasi, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Pemkab Blora juga berencana menggandeng diaspora dalam menata sarana prasarana tanpa menghilangkan nilai cagar budaya masjid.
Ke depan, Pemkab Blora akan melakukan inventarisasi terhadap masjid-masjid lain yang berpotensi menjadi masjid bersejarah, seperti Masjid di Ngadipurwo yang dekat dengan makam Bupati terdahulu. (*)





