SEMARANG, beritajateng.tv – Melukis adalah proses berkarya di manapun, kapanpun dan dalam situasi apapun. Setidaknya itulah prinsip yang Slamet Hartono pegang hingga saat ini.
Tidak harus dengan seperangkat alat lukis dan canvas yang besar, Hartono dalam berkarya tiap harinya hanya perlu satu buah bolpoin dan satu buku sketsa mini.
Begitu juga objeknya. Tidak harus model ternama ataupun gaya tertentu, bahkan dalam perjalanan singkatnya, Hartono dapat menciptakan sebuah karya.
“Kalau pas pagi jalan-jalan ke Kota Lama, melihat bangunan itu kok bagus jika kena sinar matahari, kemudian muncullah ide dan jadi karya yang original,” ungkapnya saat beritajateng.tv temui di De Warisan Art & Curio, beberapa waktu yang lalu.
Ia mengaku, melukis adalah kebutuhan wajib yang harus dilakukan setiap hari. Padahal, Hartono tidak belajar seni melalui institusi resmi, namun ia merasa besar dan dikayakan oleh interaksi dan persinggungan yang ia alami.
BACA JUGA: Pameran Seni Rupa ‘Beyond Language’, Satukan Bahasa Ekspresi dari Empat Perupa
Bahkan, lanjutnya, dalam situasi remeh-temeh pun bisa menjadi inspirasi baginya. Seperti saat ia menunggu angkutan umum, meneguk secangkir kopi di warmindo, hingga membeli pulsa di konter.
“Karena kalau nggak langsung gambar bisa terbayang-bayang dan muncul rasa penasaran. Jadi lebih baik berhenti, lukis. Apalagi suasana gambaran pagi, siang, sore, dan malam itu kan beda, itu semangat yang kita tangkap,” imbuhnya.
Kedekatan dengan objeknya
Lebih lanjut, Hartono mengatakan bahwa karena kebiasaannya melukis apapun yang ia temui, ia kini memiliki sense atau kedekatan dengan objek lukisannya.
Terlebih ketika ia melukis objek manusia.
“Menggambar itu bisa melihat karakter seseorang, apakah orang itu baik atau tidak, itu seolah-olah bicara sendiri wajahnya. Hati bisa mengatakan orangnya haik, padahal cuma konsentrasi aja menggambar,” katanya.
Dengan melukis misalnya, Hartono dapat memandang suatu kejadian sebagai hal yang positif, sekalipun aslinya menguras emosi.
“Dengan sketch hati jadi lebih ringan, ide-ide lebih depet dituangkan, nggak harus nunggu material bagus. Kalau dapat kejadian apes jadi nggak sebel, malah bahagia artinya ini waktunya berkarya,” ungkap Hartono.
BACA JUGA: Pameran Seni Rupa Lintas Agama, Memotret Kebhinekaan dalam Rangka Hari Santri Nasional
Ia menganggap, melukis spontan secara khusus lebih mengutamakan momentum tertentu. Karena baginya, momentum yang sederhanalah yang lebih membekas pada ingatannya.
“Berkarya itu sederhana. Bahkan kalau gambar juga bisa pakai tusuk sate bekas. Alam raya udah aku anggap sebagai studio, semuanya itu studio,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila













