Catatan Editor

Menyaksikan Ontran-ontran Program Sastra Masuk Kurikulum di Tepi Gelanggang Polemik

×

Menyaksikan Ontran-ontran Program Sastra Masuk Kurikulum di Tepi Gelanggang Polemik

Sebarkan artikel ini
Sastra Masuk Kurikulum
Ilustrasi buku di perpustakaan. (Foto: Freepik)

Guru bahasa Indonesia kelas X saya tak banyak mengajarkan tentang sastra maupun buku, yang ada hanyalah serasa kembali belajar bahasa Indonesia sewaktu SMP. Barulah pada kelas XI guru bahasa Indonesia saya memperkenalkan buku dan sastra nyaris secara bersamaan. Meskipun, perkenalan itu berada di ujung tahun ajaran di mana ia menyuruh para murid membuat tugas resensi berdasarkan daftar buku sastra yang telah ia tentukan. Nama-nama pengarang seperti Ahmad Thohari, S.M. Ardhan, Sujiwo Tejo, dll pun termaktub dalam daftar tersebut.

Akan tetapi, alih-alih menyuruh untuk meminjam ke perpustakaan sekolah, ia justru menyuruh para murid untuk membeli sendiri buku-buku itu. Dan, pada akhirnya menyumbangkannya untuk perpustakaan!

Tampaknya perpustakaan SMA kami memang tak memiliki buku-buku yang ia rekomendasikan sampai-sampai ia mesti menciptakan program rekomendasi sastra sendiri untuk menambah koleksi perpustakaan. Hal demikianlah yang tersimpan di ingatan saya yang samar tentang perpustakaan: terpaksa membeli buku dan mendonasikannya untuk sekolah.

Sementara ketika naik ke kelas XII, guru bahasa Indonesia tak banyak menyarankan buku sastra, kecuali kami, para murid, yang beroleh pertunjukan cuma-cuma di mana ia membacakan puisi-puisi penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, di depan kelas, tentu untuk kebutuhan pelajaran. Tetapi, hal itu cukup membekas di ingatan hingga kini meski saya tak terlalu menyukai puisi.

BACA JUGA: Film Vina: Edukasi Gak Harus Mengeksploitasi

Sutardji dibikin mati ChatGPT

Teringat penyair Sutardji, teringat pula dirinya ditulis telah meninggal dunia dalam buku panduan Sastra Masuk Kurikulum, padahal saat ini ia tengah menikmati masa senjanya. Itulah salah satu bopeng dalam penggarapan program Kemendikbudristek itu, yakni dugaan penggunaan ChatGPT yang kerap kali memunculkan informasi keliru. Kabar baiknya, saat ini program ini sedang dalam perbaikan. Kemendikbudristek tengah merevisi buku panduan program dengan mempertimbangkan kritik dan masukan dari berbagai pihak.