Pertama kali mendengar program Sastra Masuk Kurikulum, saya justru teringat perpustakaan-perpustakaan semasa sekolah, meskipun samar-samar. Bagaimana tidak? Nyaris seluruh ingatan saya atas perpustakaan di sekolah semata-mata berupa aktivitas mengerjakan tugas mata pelajaran di ruangan penuh buku. Betul, penuh oleh buku, namun aktivitas membaca buku di sana sayangnya hanya hitungan jari.
Sebut saja perpustakaan SD di mana saya bersekolah. Selama enam tahun belajar di sana, tak genap hitungan jari tempat itu pernah saya kunjungi. Sementara perpustakaan di SMP, lebih menyedihkan, yakni hanya untuk mengambil serta mengembalikan tumpukan buku paket yang sekolah pinjami secara cuma-cuma.
Saya tak perlu repot-repot menceritakan ingatan saya akan perpustakaan di SMA, sebab ia tak kalah memedihkan ketimbang kedua ingatan sebelumnya.
Padahal, semua aktivitas di perpustakaan itu sebenarnya nyaris semuanya bersinggungan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Namun, entah mengapa, bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia tak lantas membuat saya kala itu menjadi gemar mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku.
Boleh jadi, program Sastra Masuk Kurikulum ingin mencoba memperbaiki itu. Ia ingin mendekatkan buku-buku sastra kepada siswa lewat perantara guru. Apalagi, program ini tak hanya terbatas pada pelajaran bahasa Indonesia; untuk pelajaran lain pun bisa. Semua berkesempatan mengakses sastra.
BACA JUGA: Pameran ‘Dini, Kita, Nanti’: Ajak Generasi Muda Kenali Sastrawan Kondang Asal Semarang
Program sastra besutan guru bahasa Indonesia
Namun, saya cukup yakin para guru bahasa Indonesia telah membikin sendiri “daftar rekomendasi sastra” untuk membantunya mengajar, jauh sebelum ramai-ramai program Sastra Masuk Kurikulum tercetus. Sebab, demikianlah yang terjadi pada guru-guru bahasa Indonesia saya semasa SMA.


