Seperti kata Aik Solihati, Koordinator UMKM Pasar Johar Semarang. Aik mengatakan kepemimpinan Mbak Ita telah membuktikan adanya perkembangan pesat pada sektor UMKM.
“Saya pribadi dan teman-teman ingin ibu tetap maju. Itu harapan saya dan para pelaku UMKM di Kota Semarang kepada Bu Ita,” kata Aik.
Hasil kinerja dalam dua tahun terakhir, menurutnya sudah menunjukkan capaian kepemimpinan Mbak Ita sebagai wali kota. Dasar itulah yang membuat ia mendesak Mbak Ita melanjutkan kembali memimpin Kota Semarang.
“Apalagi sekarang ini programnya bagus, kalau misalnya ganti pemimpin pasti juga ganti kebijakan. Kami maunya yang sudah bagus dilanjutkan dan ditingkatkan oleh Bu Ita,” katanya.
Dukungan terhadap sektor usaha mikro hingga menengah tersebut diwujudkan dengan pelatihan dan pendampingan. Misalnya kemudahan dalam mengurus perizinan, pelatihan membuat kemasan atau packaging hingga pemasaran produk.
“Sangat luar biasa perhatian dari Bu Ita, promosi UMKM juga amat baik, dan tidak hanya sekadar memberikan program. Bahkan dari Bu Ita tidak kurang malah luar biasa perhatiannya untuk UMKM,” katanya.
Menurutnya, Mbak Ita adalah sosok ibu bagi pelaku UMKM di Kota Semarang. Sosok ibu itulah yang kemudian menjadikan kedekatan antara masyarakat dengan pemerintah mewujudkan perekonomian kerakyatan makin maju.
“Dalam arti kami masih membutuhkan aspirasi perempuan, kalau sama perempuan, kan lebih enak karena 75 persen pelaku UMKM di Kota Semarang adalah perempuan dari pada laki-laki,” katanya.
Tunggu Restu Keluarga
Dukungan serupa juga muncul dari petani durian di Kecamatan Gunungpati. Para petani durian mendesak Mbak Ita maju kembali sebagai Walikota Semarang bukan tanpa alasan. Pasalnya, komitmen Mbak Ita memajukan pertanian durian telah tembus ke kancah nasional.
“Sangat istimewa, andaikan beliau itu nyalon lagi. Saya pun akan menjadi tim untuk memilih dia lagi karena tanggapan dia orangnya ramah, tidak sombong, baik. Tetapi tegas dan bijaksana dengan penduduk Semarang,” kata Rodhi, salah satu petani Durian Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati.




