SEMARANG, beritajateng.tv – Isu perlindungan perempuan dan anak masih menjadi pekerjaan rumah besar di Jawa Tengah.
Sepanjang 2025, jumlah kasus kekerasan terhadap anak tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kekerasan seksual sebagai jenis kasus paling dominan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati, saat dimintai tanggapan perihal data kekerasan perempuan dan anak di Jawa Tengah.
“Ini masih menjadi catatan kita ya, isu perlindungan perempuan dan anak. Terutama di isu kekerasan itu memang masih meningkat dari tahun 2024 ke 2025. Untuk anak saja sampai 1.400-an lebih,” ujar Ema.
Berdasarkan data DP3AP2KB Jawa Tengah, jumlah korban kekerasan terhadap anak pada 2024 tercatat sebanyak 1.349 anak. Sementara pada 2025 hingga November, jumlah korban meningkat menjadi 1.558 anak.
BACA JUGA: Kasus Kekerasan Seksual di Jateng Naik, Mayoritas Pelaku Orang Terdekat Korban
Ema menegaskan, dari seluruh kasus kekerasan terhadap anak tersebut, kekerasan seksual menempati posisi tertinggi.
“Dan itu paling banyak adalah kasus kekerasan seksual. Jadi itu sangat memprihatinkan, karena seharusnya anak mendapatkan perlindungan, tapi mereka justru menjadi korban,” katanya.
Data DP3AP2KB menunjukkan, pada 2025 hingga November, kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai 817 kasus atau sekitar 44,57 persen dari total kekerasan anak. Angka ini melonjak tajam dibandingkan 2024 yang mencatat 101 kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Sementara itu, untuk perempuan dewasa, Ema menyebut kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih mendominasi.
“Kalau yang perempuan, paling banyak adalah KDRT. Dan itu terjadi paling banyak justru di dalam rumah,” ungkapnya.
Ia menyoroti fakta bahwa rumah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi perempuan dan anak, justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan.
“Artinya perempuan dan anak di rumah pun, yang seharusnya aman, menjadi tidak aman. Nah ini yang harus diperkuat adalah bagaimana keluarga itu bisa melindungi anak,” tegas Ema.





