Jateng

Pernikahan Dini Marak di Cilacap hingga Grobogan, Ratusan Perempuan Di Bawah Umur 19 Tahun Menikah 

×

Pernikahan Dini Marak di Cilacap hingga Grobogan, Ratusan Perempuan Di Bawah Umur 19 Tahun Menikah 

Sebarkan artikel ini
KB Laki-laki | Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati,
Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati, saat dijumpai di Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 8 Januari 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Angka pernikahan dini di Jawa Tengah menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir. Namun praktik perkawinan usia anak masih terjadi di seluruh kabupaten/kota dan belum menunjukkan penurunan signifikan.

Kepala DP3AP2KB Jawa Tengah, Ema Rachmawati, menyebut tren pernikahan anak sempat melonjak pada masa pandemi Covid-19, sebelum akhirnya mulai menurun.

“Trennya waktu Covid itu naik. Mungkin bingung enggak sekolah ke mana, ya kawin aja. Itu sampai sekitar 10 ribuan tahun 2023. Sekarang sudah turun jadi sekitar 7.000,” ujar Ema saat dijumpai di Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, belum lama ini.

BACA JUGA: Setahun jadi Model Kelurahan Ramah Perempuan: Peduli Anak, Angka Pernikahan Dini dan KDRT di Tanjung Mas Menurun

Menurut Ema, penurunan tersebut menjadi dasar DP3AP2KB mendorong pembentukan layanan Pandu Cinta, yakni pelayanan terpadu untuk pencegahan perkawinan anak.

Tak Selalu karena Hamil, Banyak Anak Menikah karena Dorongan Orang Tua

Ema menegaskan, anggapan bahwa pernikahan dini terjadi karena kehamilan di luar nikah tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan pendampingan kasus di lapangan, mayoritas pernikahan anak justru terjadi tanpa faktor kehamilan.

“Selama ini orang selalu bilang karena sudah hamil duluan. Ternyata enggak semuanya benar,” kata Ema.

Ia mencontohkan kasus di Kabupaten Wonosobo. Dari lebih dari 100 anak yang menikah dini, hanya sebagian kecil yang menikah karena hamil.

“Di Wonosobo, dari 100 sekian anak yang menikah dini, yang hamil itu cuma sedikit. Yang lainnya ya karena mau nikah aja,” ungkapnya.

Ema menyebut faktor pendorong pernikahan anak justru banyak berasal dari kondisi sosial keluarga.

“Mungkin orang tua takut anaknya luntang-lantung, atau karena sudah enggak bisa sekolah lagi, akhirnya dinikahkan,” ujarnya.

Daerah Miskin Masih Jadi Kantong Pernikahan Anak

Berdasarkan pemetaan DP3AP2KB, sebaran pernikahan anak masih banyak ditemukan di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

“Sebarannya hampir sama dengan daerah miskin. Cilacap, Brebes, Grobogan, itu masih tinggi,” kata Ema.