Gaya HidupKuliner

Ngopi di Atas Kota Semarang, Wade’ Kopi Hadirkan Rasa Pulang Lewat Rumah Joglo

×

Ngopi di Atas Kota Semarang, Wade’ Kopi Hadirkan Rasa Pulang Lewat Rumah Joglo

Sebarkan artikel ini
Suasana Wade' Kopi di Jalan Raya Banaran Unnes, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gujung Pati yang menawarkan pemandangan sejuk dan asri seperti pulang ke rumah. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Suasana Wade' Kopi di Jalan Raya Banaran Unnes, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gujung Pati yang menawarkan pemandangan sejuk dan asri seperti pulang ke rumah. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah maraknya kafe modern bergaya industrial, Wade’ Kopi memilih jalur berbeda. Mengusung konsep rumah joglo tradisional dengan suasana outdoor yang sejuk, Wade’ Kopi menghadirkan pengalaman ngopi yang tidak sekadar soal rasa, tetapi juga soal perasaan pulang ke rumah sendiri.

Berlokasi di Jalan Raya Banaran Unnes, Wade’ Kopi menawarkan ruang terbuka yang menyatu dengan alam. Dari pintu masuk terlihat jalur batu alam yang berpadu dengan pot-pot tanaman tropis, bangku kayu sederhana, hingga bangunan joglo beratap genteng tanah liat yang memberi kesan hangat dan bersahaja.

“Sejak awal kami memang ingin menumbuhkan suasana seperti di desa,” ujar Abdul Fatah, Penanggung Jawab Wade’ Kopi saat beritajateng.tv jumpai.

“Supaya orang yang datang ke sini merasa nyaman, seperti di rumah sendiri. Bahkan slogan kami juga senyaman rumah sendiri,” lanjutnya.

Joglo, Alam, dan Ruang Terbuka yang Menenangkan

Konsep joglo di Wade’ Kopi tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga ruh utama tempat ini. Bangunan kayu dengan teras terbuka menghadap area taman membuat sirkulasi udara berjalan alami. Tanpa sekat berlebihan, pengunjung bisa menikmati angin sepoi-sepoi, suara dedaunan, dan panorama hijau yang menyejukkan mata.

Area duduk outdoor didesain sederhana namun fungsional. Meja bundar dan bangku kayu ditata berjarak, memberi ruang privasi sekaligus menghadirkan suasana santai. Cocok untuk ngobrol ringan, bekerja santai, hingga menikmati kopi sendirian.

“Kenapa joglo? Karena kami ingin membangun wadah yang punya ‘nyawa’. Bukan sekadar tempat jualan kopi, tapi tempat orang bisa singgah, beristirahat, dan merasa tenang,” katanya.

BACA JUGA: Selamat Hari Kasih Sayang! Cek Rekomendasi Cafe Semarang Romantis Cocok Buat Rayakan Valentine Hari ini

Wade’ Kopi resmi buka pada Mei 2024. Meski terbilang baru, konsepnya merupakan pengembangan dari Wade’ Kopi yang lebih dulu hadir di Kabupaten Demak. Nama “Wade’” sendiri diambil dari kata “Wadai”, bahasa Kalimantan Selatan, Banjarmasin yang berarti kue atau jajanan pasar tradisional.

“Awalnya konsep Wade’ itu seperti angkringan, dengan display jajanan tradisional di depan,” jelasnya.

Seiring waktu, Wade’ Kopi melakukan inovasi. Kini, sajian jajanan tradisional tersebut dikemas lebih rapi dan masuk ke dalam daftar menu, tanpa meninggalkan identitas awalnya.

Menu snack yang ditawarkan pun masih setia pada cita rasa lokal, menjadi pelengkap kopi yang dinikmati di suasana pedesaan.

Sentuhan Seni dan Koleksi Klasik

Tak hanya mengandalkan alam dan arsitektur, Wade’ Kopi juga memperkaya suasana dengan sentuhan seni. Beberapa ornamen dan lukisan yang menghiasi area kafe merupakan koleksi pribadi sang owner yang memang menyukai barang-barang bernuansa klasik.

Perpaduan joglo, seni, dan alam menciptakan atmosfer yang autentik, jauh dari kesan kafe instan, namun dekat dengan kenangan dan rasa kebersamaan.

Menu yang ada di Wade’ Kopi sangat terjangkau. Menyasar mahasiswa dan keluarga, harga makanan dan minuman mulai Rp5.000 hingga Rp20.000.

Andyn, salah satu pengunjung mengatakan bahwa dia mengunjungi tempat ini karena ingin tahu.

“Aku sering lewat sini, wara-wiri Unnes liat kok kayanya bagus. Kan ketutup ya, cuma keliatan parkiran aja dari depan,” katanya.

BACA JUGA: Buat Nongki Malam Minggu, Daftar Cafe di Semarang Berikut ini Siap Buka 24 Jam

Setelah melihat ke dalam kafe, ternyata dia langsung jatuh hati dengan pemandangan Kota Semarang.

“Untung pas cuacanya bagus ya, tapi pas masuk itu sudah kayak wah gitu, karena aku suka pemandangan yang kaya gini [alam],” jelasnya.

“Kalau malam bagus ya, jadi lihat citylight. Tapi bagus juga pas sore gini jadi bisa foto-foto,” pungkasnya.

Konsep tradisional dan suasana outdoor yang asri, Wade’ Kopi menjadi alternatif destinasi ngopi bagi mereka yang mencari ketenangan, kehangatan, dan pengalaman berbeda. Bukan sekadar tempat nongkrong, Wade’ Kopi menawarkan ruang untuk memperlambat waktu. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp