Meski begitu, ia tak pernah patah semangat. Pada momentum hari internasional tersebut, kali ini, ia terus berupaya mengampanyekan agar kaum dengan kebutuhan khusus tersebut bisa masyarakat terima.
Hal tersebut terlihat dari banyaknya keterampilan yang diajarkan kepada anak-anak difabel di Roemah Difabel. Antara lain menjahit, melukis, kerajinan tangan, hingga bercocok tanam.
BACA JUGA: Hobi Merajut, Berawal dari Isi Waktu Luang Hingga Peluang Bisnis
“Saya terus berusaha supaya anak-anak bisa mandiri, mereka itu pola pikirnya dibawah rata-rata sehingga mereka kesulitan saat bekerja di perusahaan. Banyak hal yang tak sesuai dengan apa yang masyarakat harapkan,” tutupnya.(*)
Editor: Farah Nazila





