Pilus mengingatkan, jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa penanganan yang serius, para petani berpotensi kehilangan mata pencaharian.
Bahkan, lahan pertanian khawatirnya beralih fungsi karena pemilik memilih menjual sawah yang sudah tidak produktif.
“Kalau petani sudah tidak bisa menggarap sawahnya, lama-lama mereka akan memilih menjual lahannya. Kalau itu terjadi, lahan pertanian bisa berubah fungsi dan kita akan kehilangan sawah produktif di pesisir,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Semarang bersama instansi terkait segera menyusun langkah konkret untuk mengendalikan rob dan abrasi. Sehingga air laut tidak terus menggenangi kawasan persawahan.
“Kami sudah berupaya mendorong melalui berbagai usulan, tetapi persoalan ini membutuhkan penanganan yang lebih besar. Harus ada perencanaan yang matang agar air pasang tidak terus masuk ke lahan pertanian,” katanya.
Selain itu, Pilus juga mengajak semua pihak, termasuk media, untuk ikut mengawal upaya penyelamatan kawasan pertanian pesisir. Agar tetap produktif di tengah ancaman perubahan lingkungan.
“Kami ingin pertanian di Semarang tetap lestari. Jangan sampai sawah-sawah di pesisir hilang karena abrasi. Ini bukan hanya soal petani, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Kota Semarang,” pungkasnya. (*)





