“Di Jakarta terjadi perundingan antara sekutu dengan Sjahrir cs. Inggris mempertanyakan kelai RI benar benar ada, siapa penganggung jawab RI di kota Semarang? Jakarta Bingung, namun segera menunjuk penanggung jawab dengan Moch Ichsan sebagai penanggung jawab yang artinya memang ia benar berada di Kota Semarang, ” ujar Kurator Pameran Ode untuk Ayah, Oscar Motuloh yang mengisahkan kembali cerita Firman Ichsan.
Kala itu, kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) untuk melucuti senjata balatentara Jepang yang kalah perang telah disusupi pasukan NICA yang berambisi re-kolonialisasi Indonesia membuat rakyat Indonesia murka dan mulai mengadakan perlawanan sengit.
Mereka mendarat di tiga pelabuhan penting Indonesia yakni di Tanjung Mas Semarang, Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya. Hingga menimbulkan berbagai teror, di Semarang pecah pertempuran lima hari Semarang dan merembet menjadi peristiwa Palagan Ambarawa. Kondisi ini menyebabkan pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta sejak Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.
Menurut Firman, kisah yang menarik dan kerap diceritakan kepadanya yaitu mengenai Kota Semarang yang telah mengubah jalan hidup ayahnya.
Walau masa jabatannya tidak berlangsung lama, namun Ichsan merasa Kota Semarang telah membuatnya terlahir kembali (sebagai orang Indonesia). la pun mengagumi Rakyat Semarang yang menolak mendapatkan jatah beras Inggris dan ingin merasakan beras Republik.
“Cerita para pemuda dan pemudi (yang menjadi kurir) dari Front Barat Semarang yang gagah berani, diucapkan dengan nada kekaguman. Serta kepercayaan yang diberikan para pemimpin Republik untuk memimpin kota yang dicintainya,” ungkap Firman.
Kini Ichsan telah berpulang 31 tahun silam, Firman dan Adi pun merasa perlu untuk menyumbangkan dokumen-dokumen yang disimpan almarhum semasa Revolusi kepada negara.





