SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah memastikan produksi beras sejauh ini masih berjalan normal meski sempat menghadapi kendala banjir di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan kendala sempat terjadi di Kabupaten Grobogan akibat banjir dan jebolnya bendungan di wilayah Tuntang. Namun, kondisi tersebut tidak mengganggu proses panen secara keseluruhan.
“So far tidak masalah karena memang yang terakhir kita ada sedikit kendala di Grobogan karena banjir,” ujar Tavares saat beritajateng.tv hubungi melalui WhatsApp, Minggu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, meskipun sempat ada upaya percepatan panen, perbaikan bendungan yang jebol dapat tertangani dengan cepat sehingga panen tetap berjalan normal.
BACA JUGA: Bulog Serap Beras Petani di Blora, Stok di Gudang Capai 8.500 Ton Jelang Lebaran
“Walaupun kami berupaya untuk melakukan panen cepat tapi karena penanganan bendungan yang jebol di Tuntang itu juga cepat sehingga akhirnya panen tetap bisa dilakukan secara normal,” jelasnya.
Ia menambahkan hingga saat ini luas tanam padi di Jawa Tengah terus berjalan dengan cukup tinggi setiap harinya.
“Sampai dengan hari ini laporan dari teman-teman kabupaten/kota itu setiap hari luasan tanam sekitar 9 ribu hektare setiap hari di Jawa Tengah,” kata Tavares.
Dengan luas tanam tersebut, kata dia, produksi beras hingga Maret diperkirakan mencapai sekitar 3,9 juta ton. “Artinya bahwa kalau tanam seperti itu berarti panennya juga kurang lebih hampir sama 3,9 juta sampai dengan Maret ini,” ujarnya.
Panen Raya di Jateng Perkiraan Akhir Maret hingga April 2026
Tavares menyebut panen raya padi di Jawa Tengah perkiraan akan berlangsung dalam waktu dekat. “Panen raya kemungkinan di akhir Maret sampai memasuki April ini,” katanya.
Ia menjelaskan target produksi padi di Jawa Tengah hingga Maret perkiraan mencapai sekitar 3,3 juta ton dan harapannya terus meningkat setelah panen raya berlangsung.
“Kalau sesuai dengan target kami kan 3,3 juta ton ya itu untuk sampai dengan Maret. Jadi mungkin di April akan lebih meningkat lagi supaya bisa mendukung 10.559.000 ton,” jelasnya.
Terkait dampak bencana yang sempat terjadi di sejumlah wilayah, Tavares mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah penanganan agar produksi padi tidak terganggu.
Ia menyebut sekitar 10.000 hektare lahan yang terdampak bencana telah tertangani melalui berbagai program bantuan.
BACA JUGA: Jelang Lebaran Stok Beras di Jateng Ada 365 Ribu Ton, Bulog: Cukup Sampai Enam Bulan
“Memang ada tapi kami sudah menangani dengan asuransi usaha tani padi. Termasuk juga kami lakukan bantuan benih baik dari pusat maupun dari kami sendiri,” ujar Tavares.
Selain itu, lahan yang terdampak bencana juga telah berlangsung penanaman ulang agar tetap dapat mempertahankan produksi padi.
“Ketika mulai surut maka kembali lakukan transplantor, artinya menanam kembali lahan-lahan yang kurang lebih sekitar 10 ribu hektare kemarin yang terkena bencana,” kata dia
Ia menegaskan langkah penanaman ulang tersebut bertujuan untuk mengejar kembali target produksi yang sempat terdampak bencana.
“Kami kejar kembali daripada itu hilang begitu saja, langsung kami replanning lagi, tanam ulang lagi, 10 ribu hektare,” pungkas Tavares. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





