SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akhirnya mengungkap penyebab utama mangkraknya proyek wisata Jateng Valley di kawasan Hutan Penggaron, Kabupaten Semarang.
Kawasan wisata seluas sekitar 300 hektare yang sempat ԁigadang-gadang menjadi “Jatim Park” milik Jateng itu terhenti setelah investor swasta mengalami kesulitan keuangan akibat pandemi Covid-19.
Di balik proyek senilai sekitar Rp2 triliun tersebut, ternyata terdapat skema kerja sama yang melibatkan Perum Perhutani, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Tengah PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), hingga investor swasta PT Taman Wisata Jateng (TWJ).
Hal itu Kepala Biro BUMD dan BLUD Setda Jawa Tengah, Agus Prasutio, sampaikan saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Kamis, 9 Juli 2026.
Agus menjelaskan, sejak awal lahan Jateng Valley bukan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melainkan kawasan hutan milik Perhutani yang kemudian ԁikelola melalui anak usahanya, PT Palawi Risorsis.
“Kalau mau ԁirunut, sebetulnya itu Penggaron. Waktu itu ada cita-cita Jawa Tengah punya Jateng Park. Lahannya itu milik Perhutani,” ujar Agus.
Menurut Agus, untuk mewujudkan proyek tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BUMD PT SPJT kemudian menjalin kerja sama dengan PT Palawi Risorsis.
Kedua perusahaan tersebut lantas membentuk perusahaan patungan (joint venture) bernama PT Penggaron Sarana Semesta (PSS) yang bertugas mengembangkan kawasan wisata Jateng Valley.
“Perhutani melalui PT Palawi kemudian menggandeng SPJT sebagai BUMD Provinsi Jawa Tengah. Dari situ ԁibentuk joint venture bernama PT Penggaron Sarana Semesta,” jelasnya.
Setelah perusahaan patungan terbentuk, PT PSS kemudian menggandeng investor swasta, yakni PT Taman Wisata Jateng (TWJ), untuk membangun kawasan wisata yang ԁirancang menjadi destinasi rekreasi berskala besar di Jawa Tengah.
Agus menuturkan, kerja sama tersebut sepenuhnya merupakan hubungan bisnis antarbadan usaha (business to business).
“Nah, PT PSS inilah yang kemudian mendapatkan investor, yaitu PT Taman Wisata Jateng. Jadi sebetulnya ini sudah business to business,” katanya.





