JatengKesehatan

Pemprov Jateng Cek Senyawa Kimia Sulfur Dioksida di Langit Semarang, Imbas Erupsi Anak Krakatau

×

Pemprov Jateng Cek Senyawa Kimia Sulfur Dioksida di Langit Semarang, Imbas Erupsi Anak Krakatau

Sebarkan artikel ini
Kadinkes Jawa Tengah Zulfachmi Wahab soal sulfur klorida Gunung Anak Krakatau
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab saat dijumpai beritajateng.tv di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Rabu sore, 9 September 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng), Zulfachmi Wahab mengatakan, telah mengecek potensi cemaran senyawa kimia sulfur dioksida (SO₂) di udara Kota Semarang.

Pengecekan senyawa kimia sulfur dioksida di udara Kota Semarang. Pengecekan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus terjadi hingga hari ini, Kamis, 10 September 2026.

Zulfachmi Wahab bilang, pengukuran bertujuan untuk mengetahui kondisi udara di sejumlah wilayah di Kota Semarang. Hasilnya, kadar senyawa kimia sulfur dioksida masih berada di bawah batas ambang berbahaya.

“Pengukuran kadar udara khususnya di Kota Semarang, hasilnya SO₂ (sulfur dioksida) itu masih di bawah normal,” katanya, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Rabu, 9 September 2026 sore.

Zulfachmi Wahab merincikan, tiga lokasi yang menjadi titik pengukuran ada di depan Kantor RRI, PRPP, dan Pantai Marina. Hasil pengukuran dari ketiga titik itu belum menunjukkan adanya cemaran sulfur dioksida yang berpotensi berdampak terhadap kualitas udara di Kota Semarang.

“Artinya apa? Tidak ada cemaran SO₂ yang membuat khawatir akan mencemari lingkungan di Kota Semarang,” katanya.

BACA JUGA: Anak Krakatau Erupsi, 29 Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang Batal, 3.420 Penumpang Terdampak

Imbau Warga Jawa Tengah Kurangi Aktivitas di Luar Ruang

Zulfachmi Wahab mengatakan, agar warga mengurangi aktivitas di luar ruang. Hal itu perlu, meskipun hasil pengukuran kualitas udara di Kota Semarang menunjukkan kondisi yang masih relatif normal.

Kondisi musim kemarau, kata dia, juga dapat meningkatkan potensi paparan debu yang tidak selalu berkaitan dengan aktivitas vulkanik gunung berapi seperti Anak Krakatau.

“Namanya musim kemarau itu potensi debu bisa berbahaya kesehatan,” ucapnya.

Dia mengimbau agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker yang standar. Selain itu membersihkan mata setelah beraktivitas di luar ruang.

BACA JUGA: Status Siaga! Berikut Daftar Gunung di Indonesia yang Sedang Erupsi Saat Ini

Cek Udara Brebes yang Berbatasan dengan Jawa Barat