SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan siswa SMKN 6 Semarang kuat dugaan mengalami keracunan usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat, 31 Juli 2026.
Para siswa mengeluhkan mual, diare, sakit perut, hingga pusing hanya beberapa saat setelah menyantap menu MBG di area SMKN 6 Semarang.
Insiden tersebut langsung memicu penanganan cepat dari pihak sekolah bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Sampel makanan yang dugaannya menjadi penyebab kejadian kini telah dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Berdasarkan informasi yang Beritajateng.tv himpun, makanan MBG siswa terima sekitar pukul 09.00 WIB.
Sekitar satu jam kemudian, sejumlah siswa mulai merasakan gejala gangguan pencernaan. Kondisi itu membuat sekolah memulangkan para siswa lebih awal sekitar pukul 11.00 WIB.
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan hingga Jumat siang pihak sekolah masih melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan. Pendataan melalui Google Form yang sekolah bagikan kepada seluruh siswa.
“Data masih terus berkembang. Sampai saat ini sudah ada sekitar 690 laporan yang masuk dengan keluhan beragam, mulai pusing, mual, muntah hingga diare,” ujar Berti.
Saat kejadian, Berti mengaku sedang berada di Jakarta untuk mendampingi kegiatan Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
BACA JUGA: Viral Menu MBG di SMAN 3 Demak, Telur Asin Disajikan Utuh Ternyata Kejadian Lama
Meski demikian, dia langsung berkoordinasi dengan jajaran sekolah untuk memastikan seluruh siswa mendapat penanganan.
Menurutnya, sekolah segera menghubungi Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Puskesmas Halmahera setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami gejala.
“Begitu ada indikasi beberapa anak merasakan sakit, kami langsung menghubungi Dinas Kesehatan. Alhamdulillah tiga ambulans beserta tenaga medis segera datang ke sekolah untuk memberikan penanganan,” katanya.
Sebagian besar siswa yang mengalami keluhan tertangani di lingkungan sekolah oleh tim medis. Sementara itu, beberapa siswa pihaknya bawa ke rumah sakit atas permintaan orang tua.
“Yang dirujuk ke rumah sakit tidak banyak, sekitar empat siswa. Itu pun karena permintaan orang tua. Selebihnya dapat tertangani di sekolah,” jelasnya.
Para siswa yang ia rujuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di beberapa rumah sakit, di antaranya RST (Rumah Sakit Tentara) Bhakti Wira Tamtama dan RSD KRMT Wongsonegoro (RSWN). Namun pihak sekolah masih mendata kemungkinan adanya siswa lain yang berobat secara mandiri.
Berti menegaskan, hingga kini penyebab munculnya gejala tersebut belum dapat pihaknya pastikan berasal dari makanan MBG. Pemeriksaan laboratorium masih berlangsung sehingga semua pihak masih menunggu hasil resmi.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Sampel makanan sudah di ambil oleh penyedia MBG bersama Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan di laboratorium. Yang jelas, fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Tengah, Haris Wahyudi, membenarkan adanya laporan dugaan keracunan yang menimpa siswa SMKN 6 Semarang.
“Benar, kami menerima laporan dari pihak sekolah terkait dugaan keracunan. Ada puluhan siswa yang mengalami diare setelah mengonsumsi MBG,” ujarnya.
Haris mengatakan seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan medis dari Puskesmas setempat. Siswa dengan kondisi membaik boleh pulang ke rumah, sedangkan pendataan jumlah korban masih terus berjalan.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pastinya. Penanganan terhadap para siswa menjadi prioritas utama,” katanya.
Curiga Lauk Basi dan Beraroma Tak Segar
Salah seorang siswa berinisial DA mengaku sempat mencurigai kualitas salah satu lauk yang tersaji karena memiliki aroma dan rasa yang tidak segar.
“Kalau tadi tahunya sudah agak basi,” ungkapnya.
Ia juga mengaku pada menu MBG sehari sebelumnya sempat menemukan lauk yang kualitasnya mulai menurun.
“Kemarin menunya ayam rendang dan sayur singkong. Menurut saya rasanya juga sudah agak basi,” katanya.
DA mengaku mengalami diare dan mual setelah mengonsumsi makanan tersebut hingga harus bolak-balik ke kamar mandi.
“Tadi saya sampai keluar masuk kamar mandi empat kali. Sekarang masih mules, tapi sudah agak mendingan,” tuturnya.
Hingga berita ini ditulis, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih belum keluar. Penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait. (*)





