PADA usia muda menginjak masa remaja hampir seluruh individu merasakan tikungan hidup mencari jati diri. Menelusuri semua hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, terpengaruh lingkungan sekitar, dan menggebu mencapai semuanya dengan instan. Sesaat semuanya diraih penuh semangat, namun lambat laun padam karna rasa bosan. Mengutip perkataan seorang motivator ternama Najwa Shihab, beliau mengatakan “anak muda urat malunya jangan terlalu kencang apalagi gengsi, kenapa takut malu untuk melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang, habiskan stok malu di usia muda supaya ketika sudah tua dan berkuasa sudah tidak malu-maluin lagi”. Selalu menghantui pikiran setiap harinya, kapan dan apa yang perlu dilakukan untuk mengambil langkah awal merubahnya menjadi suatu kebiasaan. Jika hanya terus berkhayal, maka bayangan itu semakin menghantui yang perlu dilakukan adalah take itaction then well do it.
Berdasarkan pengalaman yang saya lalui, sebuah proses tidak ada yang pernah mengkhianati hasil. Jikalaupun gagal teruslah mencoba karna kita tidak akan pernah tahu kapan akan berakhir dengan sukses dan sesuai harapan. Manusiawi kadang kala merasa bersalah dengan diri sendiri telah menghabiskan banyak waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Tidak apa, sesekali beri waktu diri sendiri untuk meluangkan sejenak dari kepenatan hiruk pikuk tuntutan kehidupan yang rancu tiap harinya.
Melihat lebih dekat, banyak remaja yang menutupi dan membohongi diri demi validasi di era serba teknologi. Miris melihat hampir keseluruhan remaja saat ini bertingkah laku memanipulasi kehidupan dihantui rasa gengsi yang tinggi. Faktor apa yang menyebabkan ini bisa terjadi? Coba untuk berfikir kritis, norma sosial, lingkungan pertemanan, faktor keluarga, mungkin bisa menjadi faktor utama menyebabkan remaja kebanyakan saat ini bertingkah laku merasa paling tinggi, padahal semuanya hasil membohongi diri sendiri.
Berikut beberapa tips untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik :





