“Harus kita sosialisasikan kepada masyarakat karena era sekarang bahan kebaya itu bukan fesyen yang kuno tetapi bisa kita modif, kita moderniasi, dan anak-anak remaja sekarang juga mulai menyukai. Sehingga, nanti budaya ini tetap terpelihara, tetap terjaga, dan nanti kita menjaga nilai-nilai luhur budaya yang ada di masyarakat khususnya di Jawa Tengah,” tutur Listyati.
BACA JUGA: Sindir Kesenjangan Sosial, Kolektif Reaksi Kembali Gelar Pasar Gratis di Kota Lama Semarang
Akan hadirkan permainan jaman dulu di edisi selanjutnya
Tak berhenti di tema kebaya, Kresem telah menyiapkan program lanjutan untuk bulan Agustus mendatang. Mengusung semangat Hari Kemerdekaan, Kresem akan mengangkat tema “Dolanan Anak Kampung”. Hal itu sebagai bentuk nostalgia terhadap permainan tradisional yang kini mulai tertinggal.
“Nanti di bulan Agustus itu kami akan mencoba untuk mengangkat dolanan anak, dolanan kampung. Yang mungkin, sekarang sudah enggak generasi sekarang mainkan lagi. Kami akan mencoba nostalgia lagi,” tutur Andi.
Kresem ingin menghidupkan kembali dolanan anak seperti gobak sodor, engklek, dan permainan lainnya. Hal itu demi menumbuhkan kembali nilai kebersamaan dan keceriaan masa kecil yang sangat khas.
Melalui Kresem Art Street, Andi berharap kegiatan-kegiatan budaya seperti ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan penguatan karakter budaya lokal di tengah arus modernisasi. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





