Dalam forum tersebut, Natael mempertanyakan konsistensi Budiman sebagai mantan aktivis Reformasi 1998 yang kini menjabat sebagai Kepala BP Taskin di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Natael menilai sejumlah kebijakan pemerintah saat ini, mulai dari ukuran kabinet yang besar hingga masuknya aparat aktif ke jabatan sipil, bertentangan dengan semangat reformasi yang dahulu ԁiperjuangkan para aktivis 1998. Dari situlah ia kemudian melontarkan istilah “pelacur reformasi” kepada Budiman, yang memicu perdebatan di dalam forum.
Menanggapi kritik tersebut, Budiman membantah tudingan bahwa ԁirinya tidak lagi berpihak kepada rakyat. Ia justru menyebut pemerintah saat ini tengah menjalankan sejumlah program yang bertujuan mengatasi kemiskinan secara lebih mendasar.
Budiman menjelaskan, kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan kurangnya pendapatan, tetapi juga keterbatasan akses dan aset yang masyarakat miliki. Karena itu, pemerintah mendorong berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan.
Menurut Budiman, program-program tersebut merupakan bentuk keberpihakan kepada masyarakat yang selama ini berada di lapisan bawah.
“Menurut pandangan saya ini adalah cara berpihak kepada rakyat paling struktural yang pernah kita kenal sejak era reformasi,” ujar Budiman dalam forum tersebut. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




