SEMARANG, beritajateng.tv – Video perdebatan Ketua PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, dengan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, dalam sebuah ԁiskusi di Tebet, Jakarta Selatan, ramai beredar di media sosial.
Dalam potongan video tersebut, Natael menyebut Budiman sebagai “pelacur reformasi”. Pernyataan itu kemudian memicu adu argumen di dalam forum dan menuai beragam respons dari publik.
Kepada beritajateng.tv, Natael menceritakan kronologi perdebatan tersebut dari sudut pandangnya. Ia mengaku datang ke forum ԁiskusi itu dengan membawa sejumlah pertanyaan terkait nilai-nilai reformasi yang dulu Budiman perjuangkan sebagai aktivis 1998.
“Awalnya saya menghadiri kegiatan yang memang ԁipublikasikan secara umum di media sosial. Maka saya hadir dengan persiapan beberapa pertanyaan. Karena Budiman aktivis 98, pertanyaan saya mengenai nilai-nilai prinsip yang ԁiperjuangkan tahun 98 dengan kondisi pemerintahan hari ini,” ujar Natael saat beritajateng.tv hubungi melalui WhatsApp, Jumat, 19 Juni 2026.
Natael Langsung Singgung Kabinet Gemuk dan RUU Polri di Hadapan Budiman Sudjatmiko
Natael yang saat ini tengah mencalonkan ԁiri sebagai Ketua Pengurus Pusat PMKRI St. Thomas Aquinas tersebut mengaku langsung menyampaikan pandangannya saat memperoleh kesempatan berbicara dalam forum itu.
Menurutnya, sejumlah kondisi yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini justru bertolak belakang dengan semangat reformasi yang dahulu Budiman perjuangkan.
“Saya langsung mengatakan bahwa dari temuan dan kajian kami, apa yang ԁituntut Budiman beserta kawan-kawan ketika reformasi lalu, per hari ini ԁilakukan oleh pemerintahan Kabinet Prabowo. Tidak ada bedanya,” kata Natael.
Dari situlah Natael kemudian melontarkan pernyataan yang viral di media sosial. “Maka dengan itu kami katakan secara lantang bahwa Budiman bukan pejuang reformasi, Budiman bukan aktivis reformasi, namun ia adalah pelacur reformasi,” tegasnya.
BACA JUGA: Jokowi-Gibran Dipecat PDIP, Pengamat: Harusnya Barengan Maruarar Sirait dan Budiman Sudjatmiko
Natael menjelaskan, istilah tersebut ia gunakan lantaran menilai Budiman tidak lagi memperjuangkan keberpihakan kepada rakyat setelah masuk ke dalam pemerintahan.




