Jateng

Seribu Lebih Titik Jalan Berlubang di Pati-Jepara, Target Rampung Ditambal Sebelum Lebaran

×

Seribu Lebih Titik Jalan Berlubang di Pati-Jepara, Target Rampung Ditambal Sebelum Lebaran

Sebarkan artikel ini
Jalan Berlubang Pati | Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Wilayah Balai Pati yang mencakup Pati dan Jepara masih menjadi daerah dengan sisa jalan berlubang terbanyak di Jawa Tengah jelang arus mudik Lebaran 2026.

Berdasarkan rekap penanganan lubang jalan provinsi Jawa Tengah per 24 Februari 2026 yang beritajateng.tv terima, total lubang sejak 2 Januari tercatat sebanyak 16.942 titik.

Dari jumlah tersebut, total penanganan sejak 3 Januari hingga 24 Februari mencapai 14.071 titik, termasuk 1.070 lubang yang ditangani pada hari terakhir pencatatan.

Namun, dalam periode yang sama juga muncul 908 lubang baru, sehingga sisa lubang per 24 Februari masih tercatat 3.779 titik.

BACA JUGA: Lubang Besar di Jalan dr Wahidin Jatingaleh, Ini Penyebab dan Langkah DPU

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menyebut total jalan berlubang di ruas provinsi sebelumnya mencapai kisaran 14 ribu titik. Hingga saat ini, kata Henggar, sekitar 8,7 ribu titik telah tertangani.

“Secara keseluruhan itu jumlah jalan yang berlubang totalnya ada kisaran 14 ribu sekian. Yang belum tertangani sekarang kemarin posisi itu di Balai Pati ada 1.116 kalau tidak salah,” ujar Henggar saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Kamis, 26 Februari 2026 sore.

Ia menjelaskan, sisa lubang terbanyak memang berada di wilayah Balai Pati yang juga membawahi Jepara.

“Nah, yang paling banyak ini adalah yang di Balai Pati, termasuk Jepara. Totalnya kemarin yang belum tertangani itu ada 1.116,” katanya.

Wilayah Lain Selain Pati dan Jepara yang Masih Banyak Titik Jalan Berlubang

Selain Pati dan Jepara, Henggar menuturkan sejumlah wilayah lain juga masih menyisakan titik berlubang. Di Balai Tegal, kata Henggar, tercatat sekitar seribu lebih titik belum tertangani. Di Balai Semarang sekitar 900-an titik, dan Balai Purwodadi sekitar 400-an titik.

Sementara itu, beberapa wilayah hampir rampung. Di Magelang tersisa sekitar 25 titik, dan di Cilacap sekitar 28 titik.

“Sebagai contoh yang di Magelang itu tinggal 25 titik yang belum tertangani. Di Cilacap juga tinggal 28 atau berapa,” jelas Henggar.

Henggar menegaskan seluruh lubang jalan provinsi ditargetkan rampung sebelum masa angkutan Lebaran. Ia mengingatkan, pada H-7 Lebaran tidak boleh ada pekerjaan jalan yang mengganggu arus lalu lintas.

BACA JUGA: Persiapan Jelang Arus Mudik, DPUPR Blora Mulai Tambal Jalan Rusak dan Berlubang

Ia khawatir jika pekerjaan perbaikan terlalu mepet, justru harus berhenti saat H-7 dan mengganggu kesiapan mudik.

“Kami semua kemarin minta kalau untuk penanganan lubang di jalan ini harus clear sebelum masa angkutan Lebaran. Kalau kami langsung melakukan penanganan terlalu dekat, saya takutnya nanti H-7 kami harus disuruh berhenti, malah repot. Padahal di satu sisi H-7 memang tidak boleh ada pekerja di jalan,” ujarnya.

Kendati begitu, selama masa libur Lebaran, Henggar tetap memerintahkan jajaran balai untuk melakukan penyisiran rutin.

“Selama nanti masa liburan Lebaran, saya perintahkan juga ke teman-teman balai agar selalu dilakukan penyisiran terus. Jadi kalau muncul lubang yang baru ya langsung ditambal lagi,” katanya.

PUPR Targetkan Kemantapan Jalan di Jateng 94 Persen

Secara keseluruhan, Henggar mengklaim kondisi jalan provinsi di Jawa Tengah sudah dalam kategori baik. Target kemantapan jalan jelang arus mudik yakni sebesar 94 persen.

“94 persen dengan teman-teman jalan di Provinsi Jawa Tengah. Jadi sebenarnya secara keseluruhan kondisinya sudah bagus,” ujar Henggar.

Khusus di wilayah Jepara, terutama ruas Sekuro-Keling, PUPR mengubah metode penanganan dari pengaspalan menjadi rigid beton. Alasan pengambilan keputusan itu karena kondisi jalan sering terendam air.

“Di sana memang harus segera kami tangani. Semula arahnya pengaspalan, tapi kami ubah dengan pembetonan karena ruas jalannya sering terendam,” jelas Henggar.

Menurutnya, jika tetap menggunakan aspal, kerusakan akan berulang. “Kalau kami menggunakan aspal pasti rusak lagi. Makanya kami gunakan rigid beton. Mudah-mudahan dengan rigid beton nanti konstruksinya akan lebih terjamin,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp