Jateng

Sindir Indonesia Sedang Susah, Mahasiswa Semarang Cosplay Orang Gila dan Ledek Prabowo ‘10 + 6 = 17’

×

Sindir Indonesia Sedang Susah, Mahasiswa Semarang Cosplay Orang Gila dan Ledek Prabowo ‘10 + 6 = 17’

Sebarkan artikel ini
Semarang Mahasiswa
Mahasiswa Undip bergandengan membawa spanduk bertuliskan “10 + 6 = 17” dalam unjuk rasa yang berlangsung di depan Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 15 Juni 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan mahasiswa menyuarakan desakan dan kritikan tajam terhadap pemerintah dalam demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 15 Juni 2026 sore.

Massa dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) memadati lokasi sejak sore.

Sejumlah organisasi ekstra kampus seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga turut memelopori jalannya unjuk rasa tersebut.

Dalam aksinya, peserta dari Undip tampak saling bergandengan tangan sambil membentangkan spanduk panjang bertuliskan ledekan “10 + 6 = 17”. Tulisan tersebut merupakan bentuk satire atau sindiran tajam mahasiswa terhadap kebijakan dan logika perhitungan anggaran pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto yang mereka nilai tidak masuk akal.

Tidak berhenti di situ, beberapa mahasiswa nekat memanjat gerbang Kantor DPRD Jawa Tengah untuk menempelkan foto Presiden RI Prabowo Subianto dengan coretan silang tebal.

Meski puluhan polisi wanita (Polwan) turun langsung mengawal jalannya aksi dan bertindak sebagai negosiator, para demonstran tetap lantang menyuarakan aspirasi mereka.

BACA JUGA: Gelar Unjuk Rasa, Mahasiswa Semarang Desak Pemerintah Turunkan Harga Pertamax hingga Kritik Rekrutmen Kopdes Merah Putih

Aksi massa juga membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Negara Sedang Kritis, Ayo Jangan Apatis #rezimgemoy” yang mewarnai tegangnya unjuk rasa pada sore itu.

Penampilan salah satu orator dari organisasi HMI sukses menarik perhatian peserta unjuk rasa. Perwakilan massa tersebut dengan sengaja berpenampilan layaknya orang gila sebagai bentuk aksi teatrikal.

Mengenakan daster ungu bermotif dengan celana panjang di atas lutut serta mengikat rambutnya secara acak-acakan, perempuan itu berteriak lantang dari atas mobil komando. Sejumlah mahasiswa HMI tampak berdiri mengawal dan mendampingi sang orator dari dekat.

“Lihat, rakyat Indonesia sedang susah, sampai saya jadi gila!” teriak perempuan tersebut kepada kerumunan massa.

Tidak berhenti sampai di situ, ia juga melontarkan pertanyaan satire yang menyasar para demonstran maupun aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi.

“Adakah yang jadi boti di sini?” tanyanya yang seketika memancing riuh sorakan dari para mahasiswa.

Bawa Panca Tuntutan Rakyat, Ribuan Massa Aksi Mahasiswa Jadikan Jelangkung Simbol Kemarahan

Massa aksi membawa lima poin tuntutan utama yang mereka sebut sebagai Pantura atau Panca Tuntutan Rakyat.

Presiden Mahasiswa BEM KM Unnes, Septia Linasari, menjelaskan tuntutan pertama yakni mahasiswa mendesak pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Kedua, massa menuntut pemerintah mengembalikan fungsi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri ke ranah yang sebenarnya.

Ketiga, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang mereka anggap sekadar program populis.

Keempat, massa menuntut pemerintah mengembalikan tanah kepada rakyat. Kelima, mereka mendesak pemerintah menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.

BACA JUGA: Demo Mahasiswa di Kantor Gubernur Jateng, BEM Undip Tuntut Evaluasi MBG-Hak Petani

Septia menyebut unjuk rasa kali ini melibatkan sekitar 21 elemen, bukan hanya dari kalangan mahasiswa tetapi juga menyertakan organisasi ekstra kampus. Ia memperkirakan jumlah peserta yang turun ke jalan mencapai lebih dari seribu orang.

“Kemarin undangan terbuka cuma untuk satu Jawa Tengah. Tapi memang yang memaksimalkan karena mobilisasinya mungkin susah ya, jadi Semarang. Tapi tadi saya lihat juga ada teman-teman dari wilayah Banyumas Raya juga,” ujar Septia.

Dalam menyuarakan amarahnya, para demonstran turut membawa berbagai atribut perlawanan, salah satunya boneka jelangkung. Septia menyebut teman-teman lembaga mahasiswa yang menginisiasi penggunaan simbol-simbol tersebut.

“Biasanya teman-teman Undip membawakan jelangkung yang nantinya mungkin akan ada prosesi simbolis berupa pembakaran atau apa gitu. Itu sebagai simbol bahwasanya kita memang sedang marah,” bebernya.

Menariknya, para mahasiswa kali ini tidak menuntut anggota dewan atau gubernur untuk menemui mereka. Septia menilai aksi yang berujung pada 𝖽ialog dengan pejabat kerap kali tidak membuahkan tindak lanjut yang konkret.

“Di sini kami hanya mencoba untuk menarik atensi masyarakat. Kami mencoba untuk mengagitasi masyarakat bahwasanya Indonesia saat ini memang tidak baik-baik saja,” pungkas Septia.

Tolak Bubar, Mahasiswa Bakar Jelangkung hingga Hadang Kendaraan di Jalan Pahlawan

Sebagian massa mulai membubarkan 𝖽iri dan menarik mundur satu mobil komando pada pukul lima sore. Namun, ratusan demonstran lainnya masih memilih bertahan untuk menyuarakan aspirasi dan melanjutkan orasi mereka di lokasi.

Menjelang pukul enam sore, beberapa orang nekat membakar ban. Kepolisian merespons cepat dan langsung memadamkan kobaran api tersebut dengan menyemprotkan air dari kendaraan pengurai massa.

Ketegangan justru memuncak setelah matahari terbenam. Puluhan orang yang menolak membubarkan 𝖽iri kembali memantik kericuhan dengan membakar boneka jelangkung dan tumpukan ban tepat di depan Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah.

Massa dan aparat kepolisian sempat terlibat adu mulut. Saat polisi berusaha memadamkan api, kelompok mahasiswa justru kembali menyalakan kobaran tersebut.

Puncaknya, ketika aparat kembali membuka akses Jalan Pahlawan untuk arus lalu lintas umum pada pukul tujuh sore, sekelompok mahasiswa yang masih bertahan melancarkan aksi blokade dengan menghadang sejumlah mobil yang melintas. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp