Jateng

Gelar Unjuk Rasa, Mahasiswa Semarang Desak Pemerintah Turunkan Harga Pertamax hingga Kritik Rekrutmen Kopdes Merah Putih

×

Gelar Unjuk Rasa, Mahasiswa Semarang Desak Pemerintah Turunkan Harga Pertamax hingga Kritik Rekrutmen Kopdes Merah Putih

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Semarang
Massa mahasiswa menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin, 15 Juni 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Gelombang demonstrasi mahasiswa yang menuntut evaluasi sejumlah kebijakan pemerintah berlangsung di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang.

Massa mahasiswa menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Senin, 15 Juni 2026 sore. Aksi tersebut menyusul demonstrasi serupa yang sebelumnya berlangsung di Jakarta, Yogyakarta, dan sejumlah kota lain pada 12 hingga 13 Juni 2026.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti sejumlah isu nasional, mulai dari kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, polemik Koperasi Desa Merah Putih, hingga pengesahan Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (UU Polri).

Presiden Mahasiswa BEM KM Universitas Negeri Semarang (Unnes), Septia Linasari, mengatakan, mahasiswa masih berharap pemerintah segera menurunkan harga BBM non-subsidi yang belakangan mengalami kenaikan.

Sebelumnya, PT Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Kebijakan tersebut memicu sorotan publik karena berlangsung ketika harga minyak dunia justru mengalami tren penurunan.

BACA JUGA: Demo Mahasiswa di Kantor Gubernur Jateng, BEM Undip Tuntut Evaluasi MBG-Hak Petani

“Kalau memberikan waktu sampai sekarang belum ada tenggat waktu. Tapi harapan kita besar untuk BBM ini segera 𝖽iturunkan walaupun yang non-subsidi,” ujar Septia.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu perpindahan pengguna ke BBM subsidi jenis Pertalite. Ia khawatir kondisi tersebut akan memperpanjang antrean di SPBU dan memicu persoalan baru apabila berlangsung dalam jangka panjang.

“User Pertamax walaupun 𝖽ia bukan subsidi banyak. Sehingga pada akhirnya sekarang substitusi dari teman-teman yang memang user Pertamax, substitusi ke Pertalite,” kata Septia.

Septia menilai, apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa evaluasi, potensi kelangkaan Pertalite dapat terjadi pada masa mendatang.

“Lebih memilih untuk Pertalite itu yang pada akhirnya memberikan antrean lebih panjang dan mungkin ke depannya satu tahun atau dua tahun ketika memang tidak 𝖽iperbaiki itu akan kelangkaan Pertalite,” lanjutnya.

Septia Sebut Konsep Kopdes Merah Putih Belum Matang, Tidak Seperti Koperasi