Jateng

Sinergi Pemprov dan BI Jateng Pulihkan Lahan Pertanian Bekas Banjir Seluas 512 Hektar di Demak

×

Sinergi Pemprov dan BI Jateng Pulihkan Lahan Pertanian Bekas Banjir Seluas 512 Hektar di Demak

Sebarkan artikel ini
Sinergi Pemprov dan BI Jateng Pulihkan Lahan Pertanian Bekas Banjir Seluas 512 Hektar di Demak
Upaya pulihkan lahan bekas banjir menjadi lahan pertanian produktif di Demak. (Ellya/beritajateng.tv)

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, Kabupaten Demak merupakan salah satu sentra produksi padi utama di Jateng, dengan kontribusi terhadap produksi provinsi sebesar 8,89%.

Khusus di Kecamatan Karangtengah, lanjut dia,  merupakan salah satu sentra penghasil produksi padi di Kabupaten Demak dengan capaian luas tanam seluas 4.951 hektar.

Namun, banjir yang terjadi di wilayah tersebut menyebabkan kerusakan dan genangan lahan sawah seluas 512 hektare. Tak pelak, banjir tersebut menimbulkan kerugian yang mencapai  Rp18 miliar per musim tanam.

Kalkulasinya, bila produktivitas panen gabah kering 5,6 ton per hektar, lalu dikalikan 512 hektare, maka potensi kehilangan produksi padi sebanyak 2.867,2 ton dalam satu musim tanam.

“Setara dengan Rp 18.636.800.000, dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram,” katanya.

Defransisco berharap, pemulihan lahan pertanian di daerah teresebut bisa kembali menggenjot produktifitas padi di wilayah tersebut.

Strategi Wujudkan Lumbung Pangan

Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Rahmat Dwisaputra mengatakan inflasi yang terjadi beberapa bulan terakhir, paling banyak karena komoditas beras karena kenaikan atau penurunan harga. Hal itu ia katakan saat memberikan bantuan pertanian kepada kelompok tani di Kabupaten Demak, Rabu, 27 Agustus 2025.

Padahal, Jateng menjadi lumbung pangan nomor dua di Indonesia. Menurut Rahmat, sebagian besar beras hasil panen dari Jateng terserah ke kota besar semisal DKI Jakarta.

Hingga akhirnya, Bank Indonesia Jateng mengeluarkan kebijakan membentuk toko pengendali inflasi di sejumlah daerah di provinsi ini dan hasilnya inflasi karena beras bisa dikendalikan.

Rahmat menjelaskan, beberapa daerah yang telah terbentuk toko pengendali inflasi di antaranya adalah Kota Semarang dan Kabupaten Magelang serta Temanggung.

Saat ini, toko pengendali inflasi di replikasi di Kabupaten Demak dalam upaya meningkatkan produktivitas padi dan mengendalikan harga beras di kota wali.