SEMARANG, beritajateng.tv – Jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Grobogan bukan kali pertama terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, tanggul di wilayah tersebut dilaporkan jebol secara beruntun saat musim penghujan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, mengakui kejadian serupa hampir terjadi setiap tahun.
“Hampir tiap tahun ya memang kejadian. Jadi memang Grobogan itu yang paling berisiko kalau musim penghujan,” ujar Chomsul saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Selasa, 17 Februari 2026.
Chomsul menuturkan, Kabupaten Grobogan dilalui sejumlah sungai besar seperti Sungai Lusi, Sungai Tuntang, hingga Sungai Wulan. Kondisi tersebut membuat wilayah ini rawan terdampak banjir ketika debit air meningkat.
BACA JUGA: Update Banjir Grobogan: 9 Ribu Rumah dan Seribu Lebih Lahan Pertanian Terendam
“Di sana kan memang banyak dilalui kali-kali besar, ada Sungai Lusi, Tuntang, Wulan, dan sebagainya. Nah, itulah yang menyebabkan di sana sering terjadi banjir,” jelasnya.
Chomsul menyebut kondisi tanggul di wilayah tersebut umumnya masih berupa tanggul tanah sehingga memiliki risiko tinggi mengalami longsor maupun jebol.
“Memang kondisi tanggulnya itu umumnya tanggul tanah. Memang risiko untuk longsor atau menyebabkan jebol itu tinggi seperti itu. Ya, hampir tiga tahun betul untuk Tuntang itu berturut-turut,” tegasnya.
Penguatan Tanggul Sungai Tuntang Terkendala Anggaran, BPBD Dorong Warga Tetap Waspada
Terkait mitigasi agar tanggul tidak kembali jebol setiap tahun, Chomsul menyebut rencana penguatan sebenarnya ada. Namun, kata dia, pelaksanaannya berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana.
Ia menjelaskan, secara teknis penanganan tanggul dan sungai di wilayah tersebut menjadi kewenangan BBWS Pemali-Juwana.
“Ya, sebenarnya kalau dari rencana penguatan itu pasti ada. Tapi kan mungkin satu dan lain hal kondisi penganggaran. Untuk penanganan tanggul, sungai di wilayah sana memang berada di kewenangan teman-teman BBWS Pemali-Juwana,” terang Chomsul.
BACA JUGA: Hujan Deras Dini Hari, Banjir Grobogan Rendam 14 Desa di 8 Kecamatan
Menurutnya, keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor sehingga penguatan tanggul belum dapat dilaksanakan secara menyeluruh.
Dalam kondisi tersebut, BPBD menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan banjir seperti Grobogan dan sekitarnya.
“Mungkin dengan keterbatasan penganggaran sehingga opsi-opsi itu mereka belum bisa melaksanakan secara sepenuhnya, tapi mungkin lebih skala prioritas ya. Mitigasi strukturalnya mungkin kurang maksimal sehingga masyarakat harus lebih siap menghadapi kondisi-kondisi seperti ini,” terang Chomsul.
Warga Sudah Kembali ke Rumah, Distribusi Logistik Tetap Berlanjut Door to Door
Meski banjir sempat memaksa warga mengungsi, Chomsul memastikan saat ini tidak ada lagi pengungsian.
“Saat ini mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Tadi malam mulai kemarin, kemarin pagi, siang, malam itu kan mereka dievakuasi ke tempat yang aman. Di masjid-masjid, kemudian di rumah warga yang lebih aman,” ujarnya.
Namun berdasarkan informasi terbaru dari lapangan, warga telah kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan pascabanjir. Kendati demikian, pemerintah tetap mendistribusikan kebutuhan permakanan dan logistik langsung ke rumah warga terdampak.
BACA JUGA: Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir di Rowosari dan Meteseh Tembalang
“Tidak ada pengungsian, saat ini tidak ada yang mengungsi seperti itu. Tapi kebutuhan permakanan logistik tetap pemerintah penuhi secara door to door seperti itu,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat tetap waspada mengingat curah hujan masih relatif tinggi.
“Meskipun mungkin kondisinya cenderung sudah menurun dengan curah hujan yang masih relatif tinggi, mereka kalau memang ada arahan untuk mengungsi ya harus siap,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





