Ia menyebut, ada dua rumah yang belakangnya tebing tanpa talud. Sehingga jika terjadi hujan deras berhari-hari membuat tanah di tebing menjadi empuk berlumpur hingga kemudian longsor.
“Ada Dua rumah terdampak dan satunya berlumpur. Dan kebetulan almarhum pak Agung ini posisi sedang tidur siang dan sang istrinya sedang bekerja sebagai guru. Ini sudah dibawa ke RS Banyumanik, untuk besok bisa dimakamkan, ” jelasnya.
Mbak Ita menghaturkan turut berbela sungkawa kepada keluarga korban. “Kami atas nama Pemerintah Kota Semarang mengucapkan turut berbela sungkawa kepada keluarga Agung Agustinus, ” Terangnya.
Mbak Ita dan jajaran berupaya mencari solusi dan langkah-langkah penanganan lanjutan dengan mengundang pihak terkait. “Besok jam 9 pihak terkait akan menggunakan ekskavator membuat saluran air yang alirannya bisa dialirkan ke Sungai Kaligarang, ” katanya.
Hal ini untuk mencegah terulang kembali talud longsor. Lebih dari itu, Pemkot Semarang akan mengevaluasi perizinan dan meriview tata ruang izin perumahan.
“Ini yang menjadikan pembelajaran. Izin-izin akan menjadi evaluasi bagi kami khususnya di Dinas Tata Ruang untuk mereview kembali. Bencana longsor ini terjadi di perumahan-perumahan yang mungkin tidak sesuai tata ruangnya, ” sebut Mbak Ita. (Ak/El)





