SEMARANG, beritajateng.tv – Dunia sepak bola Jawa Tengah diguncang keputusan tegas Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jateng.
Penjaga gawang (Kiper) PSIR Rembang, Raihan Alfariq, resmi mendapat sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup. Hal ini akibat tindakan kekerasan yang mencederai sportivitas.
Keputusan berat ini berawal dari insiden panas dalam laga Liga 4 Jawa Tengah antara PSIR Rembang melawan Persikaba Blora di Stadion Krida, Rabu, 21 Januari 2025.
Pertandingan yang berakhir tanpa gol itu justru meninggalkan catatan kelam setelah Raihan melakukan tendangan keras ke arah dada pemain Persikaba Blora, Rizal Dimas Agesta.
Aksi tersebut ramai di sebut publik sebagai “tendangan kungfu” Kiper PSIR Rembang dan viral di media sosial.
Komdis PSSI Jateng menilai tindakan Raihan tidak hanya membahayakan lawan, tetapi juga bertentangan dengan nilai fair play yang menjadi ruh sepak bola.
Ketua Komdis PSSI Jateng, Samuel Evan Haryono, menjelaskan bahwa keputusan tersebut di ambil melalui proses panjang dan penuh pertimbangan.
“Agenda sidang fokus pada tindakan tidak sewajarnya yang penjaga gawang PSIR Rembang nomor punggung 77 atas nama Raihan Alfariq lakukan,” kata Samuel.
BACA JUGA: Jadwal Grup A Liga 4 Jateng 2025/2026 Putaran ke-1: Persikaba Blora, Safin Pati, PSIR Rembang, Persiharjo
Hal ini ia sampaikan saat memberikan keterangan di Kantor PSSI Jateng komplek Stadion Jatidiri Semarang, Kamis, 22 Januari 2026.
Sidang disiplin yang berlangsung lebih dari tiga jam, mulai pukul 20.30 WIB hingga mendekati tengah malam.
Dalam proses tersebut, Komdis PSSI Jateng juga menghadirkan Komite Wasit sebagai saksi ahli untuk memberikan pandangan objektif. Khususnya terkait kepemimpinan wasit dalam pertandingan yang memicu kontroversi itu.
Hasilnya, keputusan akhir menjatuhkan sanksi secara bulat tanpa perbedaan pendapat.
Raihan Alfariq tidak hanya di larang beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup, tetapi juga kena denda sebesar Rp5 juta.
“Hasil sidang menyatakan secara bulat, tanpa dissenting opinion. Kami menjatuhkan sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup serta denda sebesar Rp5 juta kepada yang bersangkutan,” tegas Samuel.
Sanksi ini menjadi salah satu hukuman terberat dalam sejarah sepak bola regional Jawa Tengah. Sekaligus menjadi peringatan keras bagi seluruh insan sepak bola agar menjunjung tinggi sportivitas.
PSSI Jateng berharap keputusan tersebut dapat menjadi efek jera dan menjaga marwah kompetisi agar tetap aman, adil, dan berintegritas. (*)
Editor: Elly Amaliyah





